Tempat Berpetualang Paling Unik Di Indonesia
- Banyak orang yang bilang, berpetualanglah Anda selagi masih muda. Ini tentunya bukan tanpa alasan, Ketika Anda masih mempunyai banyak waktu dan kesempatan jalan-jalan adalah hal wajib yang perlu dilakukan. Menambah teman, pengalaman dan pengetahuan ketika usia masih muda tentunya akan menjadikan modal buat Anda untuk menjalani kehidupan. Berpetualanlah ke Banua Wuhu dijamin akan menambah pengalaman yang sangat indah, Pulau Boti tempat yang sunyi sepi tetapi gegap gempita menyediakan makna kehidupan, Gunung Binaiya, Pendakian yang sangat menantang dari awal sampai akhir tetapi akan dibayar lunas dengan pemandangan yang sangat menakjubkan serta Kampung Vietnam di Pulau Galang tempat yang penuh dengan kenangan yang memilukan.
Adalah Banua Wuhu sebuah gunung berapi yang berada di dasar laut dengan ketinggian 400 meter di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia.
Titik kepundan ditandai dengan keluarnya gelembung diantara bebatuan pada kedalaman 8 meter. Suhu rata-rata air disana berkisar 37-38 derajad Celsius. Di sejumlah lubang banyak keluar air panas yang nampaknya mampu membuat tangan telanjang melepuh bila anda mencoba-coba merogoh ke dalamnya.
Hal yang sangat Aneh dan menarik ditempat ini adalah disekitar gunung berapi ini hidup bota laut yang sangat indah dan menakjubkan dengan terumbu karang yang rapat pada kedalaman 10-20 meter, Tak heran Banua Wuhu menjadikan area Diving paling Unik di Indonesia.
Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e. Secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman. Suku ini memiliki bahasa Dawan sebagai bahasa daerahnya.
“Kampung Vietnam” di Pulau Galang yang sejak tahun 1979-1996 pernah dihuni sekira 250.000 orang manusia perahu yang dikumpulkan dari berbagai tempat di sekitar Kepulauan Riau itu. Sebelumnya mereka hidup bersama penduduk setempat dengan imbalan barang-barang yang mereka bawa.
Dari berbagai sumber
Views
Suku Boti, Kerajaan Terakhir Timor
Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e. Secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman. Suku ini memiliki bahasa Dawan sebagai bahasa daerahnya.
Suku Boti menjadi benteng terakhir tradisi asli
Pulau Timor. Di tengah serangan modernitas yang bertubi-tubi, Suku Boti
tetap memegang kukuh warisan tradisi dan agama leluhurnya, Halaika.
Hingga kini, Suku Boti masih hidup dalam kebersahajaan mereka yang
bergantung pada kerasnya alam daratan Pulau Timor. Mereka juga sangat
menghormati alam lestari dengan hidup harmonis bersamanya… Boti, sunyi
terpencil lokasinya tapi gegap gempita menyediakan makna kehidupan.
Sebagai pengalaman yang tak tertandingi, perjalanan ke Boti pantas disebut sebagai wisata petualangan untuk yang berjiwa muda
Benteng Tradisi Atoni Metu
Tidak ada masyarakat di
Pulau Timor yang memegang tradisi leluhur seteguh dan seasli Suku Boti.
Suku Boti merupakan segelintir yang tersisa dari pewaris tradisi suku
asli pulau Timor, Atoni Metu. Suku yang mendiami pegunungan terpencil di
Kecamatan Kie, Kab. Timor Tengah Selatan ini masih menganut kepercayaan
bercorak animisme.
Keyakinan dan kepercayaan Suku Boti disebut Halaika. Suku Boti percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah
sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan
alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Uis Pah disebut juga
sebagai Dewa Bumi.
Sedangkan Uis Neno
sebagai papa atau bapak merupakan penguasa alam baka yang akan
menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan
perbuatannya di dunia. Uis Neno menjadi Dewa Langit. Bagi Suku Boti, hidup ini diatur oleh tiga kekuatan besar, yakni Uis Pah, Uis Neno, juga roh arwah leluhur (Nitu).
Suku Boti dikenal sangat
ketat dalam memegang adat dan kepercayaannya. Bila dilanggar, maka
pelanggar akan dikenakan sanksi yang tegas. Bisa jadi warga pelanggar
harus keluar dari komunitas suku Boti karena tidak diakui lagi sebagai
penganut Halaika lagi. Implementasi aturan ini berlaku untuk siapapun.
Tidak peduli orang tersebut adalah bagian dari keluarga raja sekalipun.
Laka Benu, putra sulung
dari Raja Boti yang legendaris, Usif Nune Benu, harus meninggalkan Boti
karena dia memeluk agama Katolik. Padahal, Laka Benu adalah putra
mahkota Boti menggantikan Usif Nune Benu yang mangkat pada Maret 2005.
Tradisi Boti mensyaratkan raja harus dipegang oleh orang yang mewarisi
agama leluhur. Oleh karena itu, Laka Benu tidak bisa menjadi raja. Malah
dia ‘dipersilakan’ untuk pergi dari Boti.
Tahta Raja Boti kemudian
diberikan kepada Namah Benu, sang adik Laka Benu. Namun, saat pergantian
tahta, tidak serta merta langsung sang raja baru dikukuhkan. Melainkan
ada masa tiga tahun berkabung untuk menghormati Usif Nune Benu.
Selama itu, orang Boti
tidak mengadakan pesta-pesta adat. Baru kemudian Namah Benu dikukuhkan
menjadi Raja Boti dengan sebutan Usif Namah Benu. Usif adalah sebutan
atau gelar yang diberikan Suku Boti terhadap raja mereka yang juga
merupakan pemimpin adat dan spiritual warga Boti.
Pendakian ke Gunung Binaiya
Gunung yang relatif kurang
sering didaki tetapi sebaiknya masuk daftar wisata petualangan Indonesia
untuk yang berjiwa muda adalah Binaiya (3.019 meter dpl) di Seram,
Maluku. Berlokasi di jantung Taman Nasional Manusela, pendakian dimulai
dari 0 meter dpl dan penuh dengan segala macam tantangan. Namun dengan
menjalani semua kesulitan itu Anda bisa menikmati pemandangan bentang
alam yang dahsyat, burung-burung endemik, dan pertemuan dengan penduduk
setempat.
Jalur pendakian utara dikenal lebih cepat dan mudah daripada jalur
selatan, tetapi keduanya bertemu di kampung adat Kanikeh. Sebelum
bertolak ke puncak, adat setempat mengharuskan pengunjung memohon doa
restu penduduk Kanikeh dalam bentuk upacara adat. Perjalanan ini
cenderung riskan karena Binaiya dikenal sebagai daerah preman yang
sering menarik pungli. Untuk meminimalkan risiko, bawalah pemandu asli
daerah yang mempunyai hubungan baik dengan penduduk setempat.
Trip murah ke Raja Ampat
Apakah “mahal” merupakan
kata pertama yang Anda padankan dengan Raja Ampat? Mungkin Anda akan
berterima kasih pada diri sendiri kalau selagi masih muda meniatkan
untuk mengunjungi Raja Ampat secara murah. Untuk mengirit biaya, naiklah
kapal Pelni ke Sorong dari Bitung (Sulawesi Utara), Ternate (Maluku
Utara) atau Ambon (Maluku). Dari Sorong, bisa naik kapal kayu ke Waisai
seharga Rp 70.000 per orang.
Rencanakan perjalanan untuk 5 hingga belasan orang. Anggarkan biaya
yang bisa berpatungan: sewa kapal, transportasi, penginapan. Atau pasang
tenda di tepi pantai kalau berani! Persediaan makanan, air minum, dan
bahan bakar sebaiknya sudah disiapkan dari mainland Papua Barat. Bawalah
peralatan snorkeling sendiri. Tanyakan pada penduduk lokal
lokasi-lokasi “kembaran” pulau-pulau populer seperti Wayag. Dengan
merencanakan sendiri perjalanan irit ke Raja Ampat, Anda juga bisa
mendekatkan diri dengan kehidupan nyata penduduk setempat—bukan sekadar
memandang Raja Ampat sebagai surga bahari tempat pelarian dari dunia
nyata.
Kampung Vietnam, Pulau Galang
Suatu
tempat yang sangat ideal untuk dijadikan areal pendidikan di alam
terbuka bagi anak-anak dan pemuda, semacam bumi perkemahan Cibubur di
Jakarta. Selain itu tempat tersebut menarik dikunjungi, baik turis lokal
maupun mancanegara untuk melihat sambil mengagumi nilai-nilai yang
terkandung di balik pembangunan perkampungan tersebut. Juga sambil
melakukan refleksi diri, pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa
itu untuk masa depan kehidupan umat manusia.
“Kampung Vietnam” di Pulau Galang yang sejak tahun 1979-1996 pernah dihuni sekira 250.000 orang manusia perahu yang dikumpulkan dari berbagai tempat di sekitar Kepulauan Riau itu. Sebelumnya mereka hidup bersama penduduk setempat dengan imbalan barang-barang yang mereka bawa.
Pada umumnya mereka
memberikan imbalan berupa emas. Dan kesan penduduk yang pernah
berhubungan dengan para pengungsi itu, di antara mereka tampaknya banyak
orang yang tergolong berada. Atas prakarsa pemerintah dan UNHCR,
sengaja mereka dikonsentrasikan pada suatu tempat permukiman yang
tertutup interaksinya dengan penduduk setempat untuk memudahkan
pengawasan, pengaturan dan keamanan mereka. Selain itu, pemerintah
khawatir akan berjangkitnya penyakit kelamin yang mengerikan yang
kedapatan di antara mereka, yang disebut Vietnam Rose, sebelum orang
mengenal virus HIV yang lebih mengerikan lagi.
Sekarang, perkampungan para pengungsi Vietnam itu telah menjadi wilayah terbuka untuk dikunjungi masyarakat karena telah ditinggalkan para pengungsi.
Sekarang, perkampungan para pengungsi Vietnam itu telah menjadi wilayah terbuka untuk dikunjungi masyarakat karena telah ditinggalkan para pengungsi.
Dari berbagai sumber
0 komentar:
Post a Comment
Berkomentarlah sesuai topik artikel. Komentar yang tidak relevan dengan topik artikel akan terhapus.
Note: only a member of this blog may post a comment.