Sukhoi Su-57

Pesawat Tempur Generasi Kelima Terbaru Rusia

Paus Biru

Mahluk Paling Besar Di Bumi

Lukisan Gua Kalimantan

Sebuah lukisan hewan berusia 40.000 tahun bergambar binatang buas misterius seperti sapi liar yang ditemukan di Gua Kalimantan, Indonesia

Kampung Wisata Tegallalang. Ubud, Pulau Bali

Menjelajahi Ubud - Kota Terindah di Dunia

The Vow

Film Romantis Terbaik Berdasarkan Kisah Nyata

Showing posts with label Flora Dan Fauna. Show all posts
Showing posts with label Flora Dan Fauna. Show all posts

PENELITI TEMUKAN KUTU LAUT RAKSASA DI PERAIRAN INDONESIA

PENELITI TEMUKAN KUTU LAUT RAKSASA DI PERAIRAN INDONESIA
Kutu Laut Raksasa 
gambar: on instagram ikcnhm

MahessaBlog | Para peneliti berhasil menemukan kutu laut raksasa dari spesies isopoda besar dari genus Bathynomus (anggota crustacea yang masih berkerabat dengan udang dan kepiting ditemukan di Perairan Indonesia seperti yang kami lansir dari laman LiveScience.com.

Krusrasea ini dikenal sebagai isopoda, ordo isopoda yang mencakup sekitar 10.000 spesies dan hidup diberbagai habitat darat dan lautan dengan ukuran dengan ukurannya di darat yang hanya berkisar beberapa milimeter hingga hampir 20 inci (500 mm) panjangnya. Dari isopoda laut, Genus Bathynomus berisi spesies terbesar. Dinamakan Bathynomus Raksasa (Kutu Laut Raksasa) karena panjangnya dapat mencapai 330 mm (13 inci) dan ini adalah kutu laut raksasa pertama yang dideskripsikan dalam lebih dari satu dekade dan merupakan yang pertama dari Kutu Laut Raksasa yang ditemukan di perairan Indonesia.


Menurut National Oceanic and Atmospheric Administrations, Kutu Laut dengan ukuran besar atau kecil semuanya memiliki bentuk tubuh yang sama seperti empat buah rahang, mata majemuk. dua antena, dan tubuh tersegmentasi dengan tujuh bagian yang masing-masing memiliki sepasang kaki sendiri. 

PENELITI TEMUKAN KUTU LAUT RAKSASA DI PERAIRAN INDONESIA
Perbandingan spesimen Nathynomus Raksasa (kir) dengan isopoda super raksasa B. giganteus (kanan) (gambar:Zookeys 2020).

Sementara menurut penelitian dari Zookeys, Dari 16 spesies Bathynomus, Tujuh diantaranya berukuran raksasa dengan kutu laut dewasa dapat mencapai panjang 300 mm atau lebih.

Para peneliti mengindetifikasi bahwa Kutu Laut Raksasa yang ditemukan di Perairan Indonesia dalam Ekspedisi Keanekaragaman Hayati Laut Dalam di Pulau Jawa bagian Selatan dengan menggunakan Kapal Penelitian Baruna Jaya VIII, Mereka mengumpulkan dua spesimen yaitu seekor jantan dan yang lainnya betina.di lepas pantai selatan Pulau Jawa, Indonesia pada kedalaman laut sekitar 1.260 meter. Bentuk yang unik dari pelindung kepala dan bagian perut serta sejumlah besar duri, 11 hingga 13 duri dalam tubuhnya menunjukkan bahwa Kutu Laut Raksasa yang baru ditemukan ini merupakan spesies baru.  


Selama ekspedisi yang dilakukan sejak tahun 2018 ini, Para peneliti sangat bersemangat untuk menemukan isopoda Bathynomus laut dalam, sebuah genus yang kadang-kadang juga disebut dengan "Darth Vader of the Seas".

"Indetifikasi spesies baru Kutu Laut Raksasa ini merupakan indikasi berapa sedikitnya yang kita ketahui tentang lautan",. Kata rekan penulis studi Helen Wong, Seorang peneliti dari Laboratorium Kelautan Nasional Pulau St. John, bagian dari Institute Ilmu Kelautan Tropis di Mational Universitas Singapura.

Tim peneliti lain pada tahun 2019 juga menemukan bukti langka tentang Kutu Laut Raksasa di Teluk Meksiko Mereka menemukan sekelompok Kutu Laut Raksasa saat membelah diri dan memakan bangkai aligator yang diumpankan oleh para peneliti untuk mengamati bagaimana penghuni dasar laut dalam dapat mengkonsumsi makanan tak terduga ini.


Kutu Laut Raksasa yang memakan bangkai aligator mungkin terdengar terganggu. tetapi sepupu isopoda masif yang jauh lebih kecil bisa dibilang lebuh menakutkan. Isopoda parasit yang lebih dikenal sebagai penggigit lidah atau kutu pemakan lidah melahap lidah ikan dengan menyedot aliran darah saat organ lainnya mulai lemas. Parasit kemudian memakan tempat lidah di mulut ikan yang masih hidup.    

   
Views
Share:

PENELITI TEMUKAN POHON TROPIS TERTINGGI DI DUNIA

MahessaBlog | Tim peneliti dari Inggris dan Malaysia berhasil menemukan pohon tropis tertinggi di dunia. Pohon setinggi 330 kaki (100,8 meter) ini ditemukan di hutan hujan Sabah, Malaysia. Selain itu para peneliti juga meyakini bahwa ini adalah tanaman berbunga tertinggi di dunia yang pernah ada sehingga tidaklah mengherankan pohon yang menjulang tinggi ke angkasa ini dinamakan "Pohon Menara" seperti yang kami lansir dari laman LiveScience.com.

Baca Juga : 7 Pohon Paling Unik Di Indonesia


PENELITI TEMUKAN POHON TROPIS TERTINGGI DI DUNIA

Nah bagi Anda yang ingin melihatnya tetapi tidak dapat pergi ke Pulau Borneo, Para peneliti akan membuat model pohon 3D, yang dapat digerakan orang secara online.

Dengan mempelajari pohon menara para peneliti berharap untuk memahami bagaimana pohon dapat tumbuh sangat tinggi dan jika ada faktor yang mencegah mereka tumbuh lebih tinggi, kata para peneliti.

Pohon Menara ini berasal dari keluarga spesies pohon tropis yang dikenal sebagai Meranti Kuning (Shorea faguetiana), anggota keluarga Dipterocarpaceae yang dapat tumbuh subur di hutan-hutan dataran rendah yang lembab di Asia Tenggara. Sebelumnya pemegang rekor pohon tropis tertinggi di dunia juga berasal dari wilayah ini dari genus Shorea.

Tim peneliti menemukan pohon tropis tertinggi di dunia ini dengan menggunakan laser yang dikenal sebagai pendeteksi cahaya dan jangkauan (LIDAR). Intinya, sebuah pesawat yang membawa perangkat lidar terbang rendah di atas hutan hujan wilayah ini dengan menembakkan sinar laser dan memantulkanya kembali ketika laser mengenai kanopi hutan dan tanah untuk menampilkan data untuk peta topologi.

Baca Juga : Manchineel, Pohon Paling Beracun di Dunia

Setelah melihat data, tim arkeologi kemudian menuju lokasi keberadaan Pohon Menara pada Agustus 2018. Kemudian mereka memindai pohon dengan laser terestrial untuk membuat gambar 3D resolusi tinggi dan mereka juga mengambil gambar dari atas pohon tropis tertinggi di dunia ini dengan menggunakan drone. Selain itu, seorang pendaki lokal bernama Unding Jami dari Kemitraan Penelitian Hutan Hujan Asia Tenggara, memanjat pohon pada Januari 2019 untuk mengukur tinggi persisnya dengan pita pengukur.

"Itu adalah pendakian yang sangat berbahaya dan menakutkan, sangat berangin karena pohon terdekat letaknya cukup jauh," kata Jamil dalam sebuah pernyataan. " Tetapi pemandangan dari atas pohon tropis tertinggi di dunia ini sungguh luar biasa. Aku tidak tahu harus berkata apa, selain sangat menakjubkan,".

Menurut Jamil, Pohon Menara ini kemungkinan merupakan tanaman berbunga tertinggi di dunia, karena lebih tinggi dari pemegang rekor sebelumnya Pohon Kayu Putih (Eucalyptus regnans) yang berada di Tasmania dengan tinggi 326 kaki (99,6 meter) dan pohon tropis tertinggi di dunia sebelumnya setinggi 89,5 meter juga di hutan hujan Sabah beberapa tahun yang lalu.

Tidak termasuk akarnya, Para peneliti menemukan Pohon Tropis Tertinggi Di Dunia ini memiliki berat sekitar 179.700 pound (80.500 kilogram). Tetapi hanya 5% dari massanya yang berasal dari mahkota selebar 40 meter. dan 95% lainnya berada di belalainya. Selain itu batangnya sangat lurus dengan pusat massa berada pada 28 meter di atas permukaan tanah dan hanya berjarak sekitar 0,6 meter dari sumbu vertikal pusatnya. Hal ini menunjukkan bahwa pohon ini sangat simetris dan seimbang meskipun berada pada sebuah lereng.

Pohon tropis tertinggi di dunia ini mungkin sangat rentan terhadap tiupan angin, tetapi nyatanya sejauh ini telah terhindar berkat lokasinya yang terlindung di lembah, kata para peneliti.
Meskipun pohon menara ini sangat tinggi dan besar, Namun pohon ini mampu menghadapi cuaca yang cukup berat. Beberapa faktor dapat mencegah pohon untuk terus tumbuh karena dapat membawa air hingga ke cabang-cabang tertinggi. Dan, walaupun ada pohon tropis yang lebih tinggi lagi di luar sana, Mereka mungkin tidak setinggi seperti Pohon Menara ini.

   

    
Views
Share:

DINOSAURUS PARUH BEBEK PERNAH HIDUP DI KUTUB UTARA 69 JUTA TAHUN YANG LALU

DINOSAURUS PARUH BEBEK PERNAH HIDUP DI KUTUB UTARA 69 JUTA TAHUN YANG LALU
Ilustrasi Dinosaurus Paruh Bebek yang ditemukan di Kutub Utara / Masato Hattori


MahessaBlog | Sekitar 69 juta tahun yang lalu, Arktik adalah tempat yang relatif hangat dan berhutan, tempat bagi kawanan Dinosaurus Paruh Bebek berkeliaran, theropoda mirip burung raptor anggota keluarga dari tyrannosaurus. 
 
Sekarang, para peneliti telah menemukan fosil dinosaurus paruh bebek ini di Lereng Utara Alaska. Penemuan ini dapat mengungkapkan bahwa hewan-hewan ini sangat beragam daripada yang diyakini sebelumnya. 

Baca Juga : Peneliti Temukan Otak Fosil Dinosaurus Berusia 130 Juta Tahun.
Fragmen tengkorak yang berasal dari lambeosaurine yang merupakan jenis dinosaurus paruh bebek jambul. Sebelumnya, satu-satunya  yang diketahui  dari Kutub Utara adalah Cretaceous atau dinosaurus paruh bebek jambul.

"Penemuan baru ini menggambarkan hubungan geografis antara lambeosaurine Amerika Utara dan Timur Jauh." kata pemimpin penelitian Ryuji Takasaki, seorang palentologis dari Universitas Hokaido di Jepang dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga : Peneliti Temukan Fosil Bulu Burung Prasejarah Berusia 100 Juta Tahun.

Fosil baru ini kini berada di Museum Alam dan Sain Perot di Dallas, Texas yang terdiri dari sepotong tengkorak dari dinosaurus tunggal yang ditemukan di Liscomb Bonebed di Lereng Utara terpencil dari Alaska, Kutub Utara. Fosil Dinosaurus Paruh Bebek ini dalam lapisan tulang diyakini berasal dari 69 juta tahun yang lalu. Para peneliti juga menemukan lebih dari 6.000 tulang dan fragmen tulang disana.

Sebagian tulang yang ditemukan adalah milik dari hadrosaurine , dinosaurus paruh bebek yang sering ditemukan disepanjang dataran pantai atau delta sungai yaitu disekitar area Liscomb Bonebed di Cretaceous. Namun, fosil yang baru ditemukan ini memiliki ciri-ciri tengkorak yang tidak cocok dengan kelompok yang disebut hadrosauria. Sebagai gantinya, fosil tengkorak yang baru ditemukan ini cocok dengan kelompok yang disebut lambeosaurines, yang dibedakan oleh lekukan berlubang di bagian tas kepala mereka.

Baca Juga : Arkeologi Temukan Ribuan Fosil Hewan Berusia 500 Juta Tahun di Cina

Fragmen tengkorak memiliki tonjolan tulang yang kuat hanya terlihat pada lambeosaurines, seperti yang kami lansir dari laman livescience.com. Selain itu tengkoraknya juga lebih pendek dari tengkorak hadrosaurine.

Keragaman dinosaurus di Kutub Utara

Sebelumnya lambesaurines paling utara berasal dari Alberta selatan, di Kanada, kata para peneliti. Namun temuan baru ini mengisyaratkan bahwa populasi arktik mirip dengan yang berada di Kutub Selatan.

Fakta bahwa hanya satu tengkorak lambesaurine telah ditemukan di Liscomb Bonebed mungkin menunjukkan bahwa Lambesaurine tidak seperti hadrosaurine, tidak berkumpul di daerah pantai. Lambesaurine di tempat lain di Amerika Utara dan Asia biasanya ditemukan di lingkungan pedalaman. Jadi ini mungkin adalah sedikit dari temuan dinosaurus paruh bebek di dekat garis pantai kuno di Alaska.

Baca Juga : Arkeologi Sangsikan Penemuan Fosil Ular Berkaki Empat

Dan menurut Takasaki, Pekerjaan di Alaska ini akan terus berlanjut untuk mengungkapkan seberapa dekat dinosaurus Asia dan Amerika Utara saling berhubungan.

 

  
    
Views
Share:

FENOMENA POHON DARAH DI AFRIKA SELATAN


FENOMENA POHON DARAH DI AFRIKA SELATAN
Pohon Darah (Pterocarpus angolensis)

MahessaBlog | Pterocarpus angolensis adalah sejenis pohon jati asli Afrika Selatan, Mozambik, Angola, Namibia, Tanzania, Zaire dan Zambia yang dikenal dengan banyak nama seperti Kiaat, Mukwa dan Muninga atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pohon Blodwood atau Pohon Darah. Dinamai demikian karena getah pohonnya yang berwarna merah gelap yang sangat luar biasa. Batangnya yang tergores atau cabang pohon yang rusak mulai meneteskan cairan merah, hampir seperti tubuh hewan yang terpotong.

Baca Juga : Yareta, Tanaman Berusia 3.000 Tahun

Getah merah pada pohon darah ini digunakan secara tradisional sebagai pewarna dan dibeberapa daerah dicampur dengan lemak hewani untuk membuat kosmetik untuk wajah dan tubuh lainnya. Getah pohon darah ini juga diyakini memiliki sifat magis untuk menyembuhkan tentang darah karena kemiripannya dengan darah. Selain itu pohon ini juga banyak digunakan untuk pengobatan tradisional lainnya diantaranya untuk menyembuhkan penyakit kurap, luka tusuk, sakit mata, malaria, demam, masalah perut, menutup luka dan juga untuk meningkatkan pasokan ASI.

FENOMENA POHON DARAH DI AFRIKA SELATAN

Selain itu kayu pohon darah juga dapat digunakan untuk membuat furniture berkualitas tinggi, karena dapat dengan mudah untuk di ukir. merekatkan dan skrup dengan baik dan membutuhkan polesan halus. Kayu ini sedikit menyusut ketika dilakukan pengeringan dari kondisi hijau dengan daya tahan yang tinggi sehingga Kayu Pohon Darah sangat cocok untuk digunakan membangun kapal, kano atau lantai kamar mandi,

Baca Juga : Zinnia, Tumbuhan Pertama Yang Dapat Hidup Di Luar Angkasa

Karena nilainya yang besar bagi masyarakat adat di Afrika tengah dan selatan, pohon-pohon ini dipanen pada tingkat yang tidak berkelanjutan yang menyebabkan semakin berkurang dalam beberapa dekade terakhir.

Pohon Darah dapat tumbuh hingga 12 - 18 meter, memiliki kulit kasar berwarna cokelat tua, mahkota yang menyebar indah berbentuk payung dan beruang bunga-bunga berwarna kuning.


sumber: amusingplanet.com

   
Views
Share:

MISTERIUS, IKAN ASLI BELAHAN BUMI SELATAN TERDAMPAR DI BELAHAN BUMI UTARA

MahessaBlog | Para peneliti merasa terkejut ketika mereka menemukan seekor ikan misterius terdampar di Pantai Sands Barbara Country, California pada 19 Februari 2019 lalu.Ikan misterius ini terdampar sejauh ribuan mil dari habitat asli mereka di Belahan Bumi Selatan atau sekitar Australia Selatan, Selandia Baru, Afrika Selatan seperti yang kami lansir dari laman livescience.com.

MOLA TECTA TERDAMPAR
Ikan Mola-Mola Tecla yang belum pernah terlihat di Belahan Bumi Utara
sumber: Thomas Turner / UC Santa Barbara

Ikan yang diketahui bernama Mockwinker ini memiliki panjang 2,1 meter dan merupakan spesies ikan bertulang terberat di dunia yang pernah ditemukan.


Butuh beberapa hari bagi para peneliti untuk mengindetifikasi mahluk ini karena sangat sedikit sekali yang diketahui tentang keberadaan ikan jenis ini. Meskipun penelitian tentang Mola-Mola )ikan dalam genus mola) telah berlangsung dalam beberapa dekade, para ilmuwan secara resmi menamai ikan bertulang yang baru ditemukan pada tahun 2017, setelah ikan jenis ini mati dan hanyut di pantai dekat Christchurch, Selandia Baru. Para ilmuwan pada tahun 2017 menyebut spesies Mola Tecta dengan nama latin "hidden".

Tidak ada yang mengetahui bagaimana ikan Mola Tecta bisa terdampar di Pantai California, Tetapi ini adalah untuk pertamakalinya ikan raksasa ini berada di Belahan Bumi Utara, kata para peneliti di Universitas California, Santa Barbara, Amerika Serikat.

Setelah tubuh ikan ditemukan di UC Cadangan Titik Minyak Batubara Santa Barbara (tempat pantai itu berada) para peneliti mulai bertindak. Pada awalnya, para peneliti mengira itu adalah Mola umum, Mola-mola yang hidup di lautan Santa Barbara Channel.

Mereka juga melaporkan dalam sebuah postingan di Facebook dan mengatakan, "Mola-mola sepanjang 7 kaki yang juga dikenal sebagai samudra sunfish, terdampat di pantai sebelah timur sore ini karena sebab yang tidak diketahui," Spesies yang terlihat unik ini adalah ikan bertulang terberat di dunia,".

Setelah melihat postingan di Facebook, Thomas Turner, seorang profesor di Departemen Ekologi, Evolusi dan Biologi di Kelautan UC Santa Barbara, bergegas ke pantai untuk mengambil foto. Dia kemudian memposting foto-fotonya di iNaturalist, sebuah komunitas online tempat para ilmuwan dapat melakukan crowdsource indetifikasi spesies.

Postingan Turner menarik banyak ilmuwan di seluruh dunia, termasuk Marianne Nyegaard, seorang mahasiswa doktoral di Sekolah Kedokteran Hewan dan Ilmu Hayati di Universitas Murdoch di Australia yang menemukan dan menyelidiki penemuan Mola Tecla pada tahun 2017 dan Ralph Foster, manager koleksi ichthyologi (studi ikan) di Museum Australia Selatan.


Mereka curiga sunfish laut sebenarnya adalah penipu, tetapi mereka membutuhkan lebih banyak informasi untuk memastikan, kata mereka kepada The Current, sebuah publikasi berita UC Santa Barbara.

Saya pikir ikan itu benar-benar sangat mengerikan, tetapi dengan sangat kecewa, tidak satupun dari banyak foto yang menunjukkan clavus (fitur diagnostik) dengan jelas," kata Nyegaard kepada The Current, merujuk pada struktur mirip kemudi di belakang ekor. 

Menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 2017, spesies Mola hoodwinker memiliki moncong yang menonjol dan juga tidak memiliki benjolan di kepala atau dagu. Selain itu Clavusnya memiliki margin bulat dan dipisahkan menjadi bagian atas dan bawah seperti laporan para peneliti.

MOLA TECLA TERDAMPAR
Jessica Nielsen, seorang spesialis konservasi di Coal Oil Point Reserve, mengambil tisu dari Mola-Mola Tudung.
Sumber: Thomas Turner / UC Santa Barbara


Untuk membantu mengindetifikasi, para ilmuwan UC Santa Barbara menjelajahi pantai sampai mereka menemukan tubuh Mola lagi. Kemudian mereka mengambil gambar dengan fitur khusus pada ikan dan bahkan memotong sepotong jaringan sirip untuk dindetifikasi DNA.


Untuk merayakanya, para ilmuwan memperbaharui halaman Facebook dengan mengatakan, "Pembaharuan tentang misteri Mola... Spesies ini telah diindetifikasi secara posistif sebagai Mola Tecla, monkwinker mola-mola! Ini adalah penemuan yang sangat luar biasa karena ini adalah catatan pertama dari spesies ini yang diamati di Belahan Bumi Utara,".  


Views
Share:

MISTERI MAHLUK BERUSIA 480 JUTA TAHUN AKHIRNYA TERKUAK

MahessaBlog | Selama sekitar 150 tahun terakhir, para ilmuwan terus memperdebatkan tentang mahluk misteri berusia 480 juta tahun jauh sebelum Dinosaurus hidup di bumi akhirnya berhasil diindetifikasi oleh para ilmuwan setelah ditemukannya fosil lainnya yang sangat menakjubkan di Maroko. Mahluk-mahluk yang dikenal sebagai stylophorans, berbentuk seperti hiasan dinding yang rata dan lapis baja ini memiliki lengan panjang yang mencuat dari sisi-sisinya. Tetapi para ilmuwan hingga saat ini belum bisa memastikan dari keluarga hewan mana mahluk-mahluk ini berasal.

fosil dari Formasi Fezouata di Maroko
Tim peneliti yang menggali fosil dari Formasi Fezouata di Maroko
sumber: Betrand Levebvre

Menurut studi baru yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS) di Laboratorium Geologi Lyon di Perancis, mengungkapkan bahwa mereka adalah echinodermata, kerabat kuno hewan modern seperti landak laut, bintang laut, bintang bulu dan teripang seperti yang kami lansir dari laman livescience.com.

BACA JUGA : Lukisan Fresco Kuno Dari Narcissus Mythical Ditemukan di Pompeii

"Temuan ini dimungkinkan berkat fosil yang baru ditemukan dengan "bukti nyata untuk bagian lunak yang sangat awet, baik di sisi-sisnya maupun di tubuh stylophorans," kata ketua studi Betrand Lefebvre.

Fosil yang luar biasa yang baru ditemukan ini digali selama penggalian pada tahun 2014 di Formasi Fezouata yang berada di sepanjang tepi Gurun Sahara di Maroko Selatan. Penggalian ini menghasilkan banyak fosil, termasuk sekitar 450 spesimen stylophorans yang masing-masing berasal dari 480 juta tahun yang lalu.

Tetapi para peneliti tidak segera menyadari bahwa beberapa fosil terdapat jaringan lunak yang diawetkan. "Hanya ketika kita membongkar dan melihat mereka dengan miskroskop di laboratorium Lyon, kita baru bisa melihat banyak bagian lunak, indetifikasi tentang mereka kemudian dikonfirmasi oleh pengamatan dan analisis SEM (scanning electron microscope)  " kata Lefebvre lebih lanjut.

stylophorans genus Thoralicystis
ilustrasi stylophorans genus Thoralicystis
sumber: hak cipta Rich Mooi / California Academy of Science
Temuan jaringan lunak belum pernah terjadi sebelumnya. Fosil Stylophoran telah ditemukan di seluruh dunia sejak tahun 1850-an, yang memungkinkan para peneliti menentukan bahwa mahluk-mahluk ini hidup dari Kambrium Tengah hingga periode Karbon akhir atau sekitar 510 juta hingga 310 juta tahun yang lalu, ketika mahluk ini punah. Tetapi karena jaringan lunak sangat jarang menjadi fosil, stylophoran hanya diketahui dari bagian kerangka yang keras dan bukan bagian dalam yang empuk.

BACA JUGA : Peneliti Temukan Cumi Misterius Paling Aneh di Teluk Meksiko

"Anatomi internal mereka tidak hanya sepenuhnya tidak diketahui, tetapi juga dan sebagian besar sangat kontroversial," kata Levebvre.  

Seperti apa rupa stylophorans?

"Stylophorans memiliki dua bagian utama : tubuh inti dan pelengkap aneh yang melekat padanya. Baik tubuh ini dan embel-embel kecil yang masing-masing memiliki panjang sekitar 1,2 inchi (3 centimeter)," kata Levebvre. 

Dari tahun 1850-an hingga tahun 1950-an, sebagian besar peneliti berpikir bahwa stylophorans adalah echinodermata. Embel-embel mereka ditafsirkan sebagai setara dengan batang bunga lili laut.

"Echinodermata normal memiliki kerangka internal yang terbuat dari mineral , lempeng kalsit dan disebut sistem pembuluh air yang membantu mereka bergerak dan bernafas," kata Peter Van Roy, ahli paleobiologi dari Universitas Ghent di Belgia, yang tidak terlibat pada penelitian ini.  

BACA JUGA : Mengapa Kadal Kuno Memiliki Empat Mata?

"Kebanyakan echinodermata seperti bintang laut memiliki simetri sinar lima. Mereka terkait erat dengan kelompok inverterbrata lain seperti cacing biji dan verterbrata (hewan dengan tulang belakang) membentuk kelompok yang dikenal sebagai deuterostomia," kata Van Roy lebih lanjut.    

Kemudian pada awal 1960-an, ahli paleontologi Belgia, Geoges Ubaghs memperhatikan bahwa pelengkap berbeda dari batang tetapi mirip dengan lengan makanan seperti yang terlihat pada bintang laut modern.

 fosil Thoralicystis dari Maroko
Foto fosil Thoralicystis dari Maroko
sumber: Emmanuel Robert

Pada akhir tahun 1960-an,ahli paleontologi Inggris, Richard Jefferies mengusulkan gagasan yang sama sekali berbeda. Dia berpikir bahwa tubuh utama stylophorans adalah kepala dan bahwa embel-embel itu menampung otot dan notochord (sejenis tulang punggung primitif). Jefferies berpikir bahwa stylophorans adalah "mata rantai yang hilang" antara echinodermata dan chordata (kelompok yang mencakup vertebrata).

BACA JUGA : Hiu Berjumbai Berusia 80 Juta Tahun Ditemukan Di Pantai Portugal

Sementara pada tahun 2.000, ahli paleontologi Inggris lainnya Andrew Smith menyarankan interpretasi lain. Dia mengatakan bahwa stylophorans mungkin bukan "mata rantai yang hilang" antara echinodermata dan vertebrata tetapi lebih mungkin adalah deuterostoma primitif, yang mengisi celah antara cacing biji dan echinodermata.

Namun penemuan baru jaringan lunak yang telah memfosil itu telah mengubah segalanya. Peneliti dapat menguji untuk pertama kalinya, Apakah jaringan lunak itu cocok dengan apa yang anda harapkan dari skenerio yang berbeda ini, kata Levebvre.

Bukti Kuat

Fosil yang baru ditemukan ini selaras paling dekat dengan interpretasi Ubagh. Badan pipih stylophorans berisi usus, embel-embelnya tidak tertutup seperti batangnya dan lebih mirip dengan bintang laut. Lengan ini berisi sistem pembuluh air yang membantu mahluk misterius berusia 480 juta tahun bergerak dan makan seperti lengan bintang laut, kata Van Roy.

BACA JUGA : Peneliti Temukan Katak Transparan di Rusia

Karena stylophorans tidak memiliki simetri sinar-lima, mereka kemungkinan kehilangan itu , yang berarti mereka lebih maju secara evolusi daripada echinodermata lima-ray lainnya, kata Van Roy lebih lanjut.

"Penemuan ini sangat penting karena mengakhiri perdebatan selama 150 tahun tentang posisi fosil-fosil yang tampak aneh di kehidupan Bumi," kata Levebvre.

"Studi ini sangat menyeluruh," kata Van Roy, "Dan Saya tidak ragu tentang metode yang digunakan atau kesimpulan yang diambil,". Selain itu, ini menyoroti pentingnya fosil Formasi Fezouata yang terpelihara dengan baik , tempat dimana Van Roy sebelumnya sebelumnya menemukan spesimen spektakuler.     

Views
Share:

YARETA, TANAMAN BERUSIA 3.000 TAHUN


YARETA, TANAMAN BERUSIA 3.000 TAHUN


MahessaBlog | Yareta (azorella compacta) yang juga dikenal sebagai "Llareta" dalam bahasa Spanyol adalah tumbuhan berbunga dari familia Apiaceae asli dari Amerika Selatan. Tanaman ini tumbuh di padang rumput Puna yang terletak di Pegunungan Andes, Peru, Bolivia, bagian utara Chili dan bagian barat Argentina pada ketinggian 3.200 dan 4.500 mdpl dimana ngin bertiup tanpa henti. Untuk tetap bertahan hidup pada kondisi ekstrim, Yareta tumbuh pada bungkusan yang sangat padat sehingga batangnya dapat seberat ukuran manusia. 

YARETA, TANAMAN BERUSIA 3.000 TAHUN

Tanaman ini merupakan tumbuhan parenial yang daunnya selalu hijau (everygreen). Sementara bunganya berwarna merah muda atau lembayung muda. Bunga ini melakukan pembuahan sendiri (hemafrodit) dan penyerbukkannya melalui bantuan serangga.


Tanaman ini lebih memilih tanah berpasir dan kering walaupun bisa juga tumbuh di tanah yang miskin zat hara yang bersifat asam, netral atau basa. Yareta beradaptasi untuk hidup dalam paparan sinar matahari atau insolasi tingkat tinggi khas dataran tinggi Andes dan tidak dapat tumbuh di tempat yang teduh. 

Daun tanaman ini tumbuh seperti semacam tikar atau hamparan sangat padat yang membantu mengurangi kehilangan panas. Tikar ini tumbuh di dekat tanah dimana suhu udara satu atau dua derajad Celcius lebih tinggi dari suhu udara rata-rata. Perbedaan suhu ini adalah hasil radiasi gelombang panjang yang dipancarkan ulang oleh permukaan tanah (yang biasanya berwarna abu-abu gelap sampai hitam di Puna).

Hal lain yang dapat dipelajari dari Yareta untuk tetap bertahan hidup di Pegunungan Andes yang tidak bersahabat adalah tumbuhnya sangat lambat, hampir pada kecepatan geologis 1,5 centimeter per tahun. Banyak Yareta yang tumbuh di Pegunungan Andes berusia hingga 3.000 tahun.

YARETA, TANAMAN BERUSIA 3.000 TAHUN

Karena Yareta tumbuh dilahan yang kering dan padat, ia dapat terkena sinar matahari dengan sangat baik, Seperti juga Gambut yang secara tradisional dapat dipanen untuk bahan bakar. Jumlah Yareta yang hilang menjadi sangat signitifkan sehingga sangat mengancam keberadaan tanaman ini. 


Namun sekarang Yareta adalah spesies yang dilindungi dan menjadi penanam yang lambat dan menurut IUCN, Yareta merupakan salah satu spesies tanaman yang terancam punah.

 
Views
Share:

ILMUWAN TEMUKAN SPESIES IKAN GUA BAWAH LAUT MENYERAMKAN DI KEPULAUAN KARIBIA

Mahessa Update | Para ilmuwan dari Universitas A&M Texas, Galveston telah berhasil menemukan spesies ikan gua bawah laut menyeramkan berbentuk "kelabang" di Kepulauan Turks dan Caicos di Kepulauan Karibia saat mempelajari perairan dari gua-gua bawah laut dikawasan ini seperti yang kami lansir dari laman dailymail.co.uk

Remipede Lasionectes
Penemuan baru Remipede Lasionectes

Lasionectes, demikian sebutannya adalah bentuk krustasea yang sebelumnya tidak diketahui dari keluarga Remipede dan selanjutnya memperluas ruang lingkup kehidupan laut. Penemuan spesies ikan gua bawah laut ini terjadi pada saat banyak gua yang banyak mengandung garam di Karibia berada dalam bahaya polusi atau kehancuran.


"Kami mengumpulkan apa yang kami yakini sebagai spesies remipede baru, kemungkinan yang terkait dengan yang ditemukan di Semenanjung Yucatan, Meksiko," kata profesor Tom Illiffe, yang ikut memimpin penyelidikan.

Sementara itu kemungkinan lainnya adalah spesies baru kehifdupan gua laut lainnya akan ditemukan setelah pemeriksaan lebiih lanjut selsesai, kata Illiffe.

Pada saat pertama kali melihat spesies ini, Anda mungkin akan mengira bahwa remipede ini lebih persis kelabang yang sedang berenang jika dibandingkan dengan krustasea. Mereka memiliki kepala dan tubuh panjang dengan 15-42 segmen berbentuk serupa yang masing-masing memiliki tubuh seperti dayung.


Hewan-hewan yang luar biasa ini tidak memiliki mata dan kekurangan pigmentasi tubuh, adaptasi khas untuk kehidupan di kedalaman gua bawah laut tanpa cahaya.

Para peneliti mengatakan bahwa langkah selanjutnya adalah melakukan analisis molekular dan morfologis secara lebih terperinci. Namun karena beberapa faktor, hal ini harus dilakukan dengan cepat.

Waktu sangat penting dalam penelitian ini karena banyak dari gua bawah laut disini berada dalam keadaan bahaya polusi atau kehancuran. 

KEPULAUAN TURKS DAN COICOS
Kepulauan Turks dan Coicos

"Satu gua tempat kami menemukan spesies ikan gua bawah laut dalam perjalanan terakhir kami disini sekarang telah tercemar dan sangat berbahaya. Jika kami tidak mendapatkan informasi ini sekarang, mungkin kesempatan ini akan hilang selamanya," kata Tom Illiffe lebih lanjut.


Dr. Illiffe telah menjelajahi lebih dari 1.500 gua bawah laut, lebih dari siapapun di dunia. Selama 40 tahun kariernya, Ia telah menemukan lebih dari 350 spesies kehidupan laut. Dia mencatat ada rasa urgensi disekitar penelitiannya.

Views
Share:

10 FAKTA MENARIK TENTANG ORANGUTAN YANG TERANCAM PUNAH

MahessaUpdate | Orangutan adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat yang hidup di hutan hujan Sumatera dan Kalimantan, Indonesia. 

10 FAKTA MENARIK TENTANG ORANGUTAN YANG TERANCAM PUNAH


Ciri-ciri dari Orangutan

Orangutan memiliki tubuh gemuk dan besar, memiliki leher besar, lengan yang panjang dan kuat , kaki yang pendek dan tertunduk dan tidak mempunyai ekor. Orangutan memiliki tinggi sekitar 1.25 - 1.5 meter. Tubuh orangutan diselimuti dengan rambut berwarna merah kecoklatan, mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi. 


Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisinya. Ubun-ubun yang besar, rambut menjadi panjang dan tumbuh janggut disekitar wajah. Mereka mempunyai indera yang sama dengan manusia yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap dan peraba.

Berat orangutan jantan sekitar 50-90 kilogram, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 30-50 kilogram.

Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jari yang sangat mirip dengan manusia. 

Orangutan masih termasuk spesies kera besar seperti gorila atau simpanse yang termasuk kedalam klarifikasi mamalia, memiliki otak yang besar, mata yang mengarah kedepan dan tangan yang dapat melakukan penggenggaman.

Berikut 10 Fakta Menarik Orangutan lainnya yang dapat Anda simak.    


1. Dimanakah Orangutan tinggal?

Orangutan hanya dapat ditemukan di hutan hujan Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, Indonesia. Mereka menghabiskan hampir seluruh hidup mereka di pepohonan dan berayun dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya serta membangun sarang untuk tidur. 

2. Apakah kedua spesies orangutan terlihat berbeda antara yang satu dengan yang lainnya?

Dua spesies orangutan yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) sedikit berbeda dalam penampilan dan perilakunya. Walaupun keduanya memiliki bulu kemerahan yang lebat, orangutan Sumatera memiliki rambut wajah yang lebih panjang dan tampaknya memiliki ikatan sosial yang lebih dekat daripada sepupunya yang berada di Kalimantan. Orangutan Kalimantan lebih cenderung turun dari pohon pada beberapa kesempatan dan bergerak di atas tanah.


3. Ancaman apa yang dihadapi orangutan?

Salah satu ancaman terbesar dari kera besar di Asia ini adalah deforestasi yang cepat dan pengrusakan habitat asli mereka di alam liar terutama karena terbukanya perkebunan kelapa sawit dan pertanian lainnya. Selain itu orangutan muda juga terancam dengan perdagangan hewan peliharaan ilegal dan ibu mereka sering dibunuh ketika ingin mengambil anak-anak orangutan.

4. Berapa banyak orangutan yang tersisa di alam liar?

Orangutan Borneo termasuk hewan langka yang terancam punah dan jumlahnya hingga sekarang sekitar 41.000. Sementara orangutan Sumatera yang statusnya juga terancam punah dengan perkiraan populasi yang ada sekitar 7.500. Sementara satu abad yang lalu, keberadaan mereka masih sekitar 230.000 orangutan yang masih berkeliaran di alam bebas.

5. Apakah Orangutan menempel pada anak-anak mereka?

Orangutan dewasa pada dasarnya solieter tetapi para induk mereka tetap bersama anak mereka hingga berusia 8 tahun. Dan ini waktu yang cukup lama bila dibandingakn dengan kera besar lainnya.

6. Apa makanan orangutan?

Sekitar 60 persen orangutan mengkonsumsi buah untuk dimakan, seperti buah leci, manggis, mangga dan ara. Mereka juga memakan daun dan pucuk muda pohon. Makanan lainnya yang dapat dimakan oleh orangutan adalah serangga, tanah, kulit pohon serta kadang-kadang memakan telur dan hewan vertebrata kecil lainya. Sementara air berasal dari buah atau lubang pohon.


7. Bagaimana WWF membantu orangutan?

WWF telah bekerja pada konservasi orangitan sejak tahun 1970-an. Sementara sekarang mereka fokus pada pengamanan lahan untuk habitat utama orangutan dengan mempromosikan kehutanan berkelanjutan dan menghentikan perdagangan satwa liar.

8. Darimana kata "orangutan" berasal?

Nama orangutan diterjemahkan menjadi "manusia hutan" dalam bahasa Melayu.
 
9. Apakah orangutan memanjat pohon?

Orangutan dibedakan oleh lengannya yang panjang dan berotot serta tangan dan kaki yang mencengkram yang memungkinkan mamalia penghuni pohon terbesar di dunia untuk mengayunkan tubuhnya dari cabang yang satu ke cabang yang lainnya.


10. Bagaimana WWF membantu mencegah perusakan habitat orangutan?

WWF membantu meluncurkan bisnis madu berkelanjutan di Pulau Kalimantan, dimana orangutan dan orang-orang masyarakat setempat tergantung pada hutan yang sama. Produk berharga yang ditanam di hutan memberikan pendapatan dan dapat mencegah habitat orangutan.

   
Views
Share:

Blog Archive

Bookmarking

Ikuti Facebook