Views
Sukhoi Su-57
Pesawat Tempur Generasi Kelima Terbaru Rusia
Paus Biru
Mahluk Paling Besar Di Bumi
Lukisan Gua Kalimantan
Sebuah lukisan hewan berusia 40.000 tahun bergambar binatang buas misterius seperti sapi liar yang ditemukan di Gua Kalimantan, Indonesia
Kampung Wisata Tegallalang. Ubud, Pulau Bali
Menjelajahi Ubud - Kota Terindah di Dunia
The Vow
Film Romantis Terbaik Berdasarkan Kisah Nyata
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
APA YANG ANDA KETAHUI TENTANG MENINGITIS, PENYEBAB GLENN FREDLY MENINGGAL
MahessaBlog | Musisi tanah air Glenn Fredly telah tutup usia pada usia 44 tahun akibat penyakit meningitis. Pihak keluarga Glen menyatakan bahwa sejak satu bulan terakhir, Beliau mulai merasa tidak nyaman atas penyakit yang dideritanya sehingga memutuskan untuk menjalani perawatan pengobatan. Meski kondisinya menurun dalam tiga hari terakhir, Namun masih bisa berinteraksi sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020, ungkap Mozes Latuihamalo, perwakilan dari keluarga Glenn seperti yang kami lansir dari laman kompas.com.
Pasien Meningitis
Jadi apakah meningitis dan seberapa bahayakah penyakit ini sebenarnya?
Meningitis adalah peradangan pada selaput yang menutupi sumsum tulang belakang dan otak. Ada banyak kemungkinan penyebabnya seperti virus, jamur, parasit, obat-obatan dan kanker. Tetapi jenis yang sering muncul dalam berita adalah bentuk bakteri yang disebut meningitis meningokokus yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis.
Baca Juga: Kapan Vaksin COVID-19 Tersedia?
Menurut Aileen Marty, MD, Profesor penyakit menular Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Florida, Herbert Wertheim College of Medicine, seperti yang kami lansir dari laman health.com, Meningitis dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan pendengaran. Dalam kasus yang sudah parah penyakit ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam beberapa jam saja.
Meski gejala awalnya mirip dengan flu, Meningitis tetap harus diwaspadai, karena juga dapat menimbulkan kejang atau kaku pada leher. Pada bayi, penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya benjolan di kepala.
Meningitis biasanya ditularkan dari kontak dekat dengan seseorang yang sebelumnya telah terinfeksi atau melalui kontak air liur orang yang terinfeksi yang dapat terjadi ketika Anda hidup bersama atau saat mencium, kata Jessica MacNeil, seorang ahli epidemiologi di Divisi Penyakit Bakteri di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S.
Walaupun demikian, penyakit ini tidak seperti masuk angin atau flu, Bakteri tidak dapat menyebar melalui kontak biasa, berada di ruangan yang sama dengan seseorang yang telah terinfeksi atau menghirup udara dimana seseorang telah terinfeksi penyakit meningokokus karena bakteri tidak dapat hidup lama di luar tubuh. Jadi Anda tidak dapat tertular penyakit meningitis dengan hanya menyentuh bagian permukaan luar tubuh.
Gejala bagi mereka yang telah terinfeksi penyakit Meningitis adalah demam mendadak, sakit kepala dengan leher yang sangat kaku. Gejala lainnya adalah merasa mual dan muntah, kebingunagn, kelelahan dan peka terhadap cahaya.
Cara terbaik mencegah terinfeksi penyakit meningitis adalah melindungi diri sendiri dengan cara mencuci tangan dengan cara yang benar, kata Dr. Marty. "Mencuci tangan memang sangat diremehkan tetapi itu sangat penting," kata Dr Marty.
Baca Juga: Kenali Virus Corona Sejak Dini
Di bawah air mengalir, gosok semua celah tangan Anda selama setidaknya 20 detik. Bilas, lalu keringkan dengan handuk bersih. Cuci tangan Anda setelah pergi ke kamar mandi, sesudah makan, dan setiap kali ketika Anda berada disekitar orang sakit.
Penyakit Meningitis bisa dicegah dengan menjalani hidup sehat dan menghindari kondisi yang dapat memicu penyebaran infeksi. Guna meningkatkan kekebalan tubuh dari bakteri penyebab meningitis, lakukan vaksinasi seperti vaksin PVC sesuai anjuran dokter.
KAPAN VAKSIN COVID-19 TERSEDIA?
MahessaBlog | Di tengah mewabahnya Pandemi COVID-19 di seluruh dunia, Pengobatan dan Vaksin COVID-19 sangat dibutuhkan saat ini untuk menghentikan pandemi yang telah membawa banyak orang terinfeksi yang sebagian diantaranya dilaporkan meninggal.
Anthony Faucy, Direktur Institute Nasional Alergi dan Penyakit Menular, baru-baru ini mengatakan bahwa penelitian tentang vaksin covid-19 dapat memakan waktu 12 hingga 18 bulan untuk pengembangannya, menguji dan digunakan untuk umum. Tetapi pembuatan vaksin baru biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan persetujuan. Sekarang dapatkah kita benar-benar mengharapkan vaksin corona virus siap pada musim panas 2021?
Seperti yang kami lansir dari laman Livescience.com, Para ahli mengatakan bahwa untuk vaksin lain apapun waktunya tidak realitis. Tetapi mengingat akan tekanan Pandemi Covid-19 sekarang ini, Vaksin Covid-19 bisa lebih cepat selama para ilmuwan dan badan pengawas bersedia untuk bekerja lebih keras lagi.
Menguji Banyak Opsi
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Lebih dari 60 kandidat Vaksin Covid-19 sekarang sedang dikembangkan oleh para ilmuwan.di seluruh dunia yang beberapa diantaranya telah memasuki uji klinis awal pada sukarelawan manusia.
Beberapa kelompok ilmuwan meneliti bertujuan memprovokasi respons kekebalan pada orang yang divaksinasi dengan memasukkan Virus Sars-CoV-2 yang lemah atau mati ke dalam tubuh mereka. Vaksin untuk Campak, Influenza, hepatitis B dan Virus Vaccinia yang menyebabkan cacar.
Menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Meskipun di coba dan di uji, Menggunakan metode ini untuk mengembangkan vaksin konvensional adalah padat karya yang mengharuskan para ilmuwan untuk mengisolasi, membudidayakan, dan memodifikasi virus hidup di laboratorium.
Menurut Raul Andino-Pavlovsky, Seorang profesor di Departemen Mikrobiologi dan Imunology di University of California, San Francesco, "Proses awal hanya untuk pembuatan vaksin dapat memakan waktu 3 sampai 6 bulan, "Jika Anda memiliki model hewan yang baik untuk menguji produk Anda,".
Namun mengingat krisis pandemi Covid-19 saat ini, beberapa kelompok memilih pendekatan yang lebih cepat, jika kurang konvensional.
Vaksin COVID-19 pertama yang memasuki uji klinis di Amerika Serikat misalnya menggunakan molekul genetik yang disebut mRNA sebagai dasarnya. Para ilmuwan menghasilkan mRNA di laboratorium dan bukannya menyuntikkan langsung SARS-CoV-2 ke pasien. Dengan desain vaksin yang harus mendorong sel-sel manusia untuk membangun protein yang ditemukan di permukaan virus dan dengan demikian memicu respon kekebalan protektif terhadap Virus Corona. Sementara kelompok ilmuwan lainnya menggunakan bahan genetik terkait termasuk RNA dan DNA untuk membangun vaksin serupa yang akan mengganggu langkah sebelumnya dalam proses membangun protein.
Menurut Bert Yacobs, seorang profesor Virologi di Arizona State University dan anggota Pusat Imunoterapi, Vaksin dan Viroterapi dari Institue Biodesign Institute ASU, "Sampai saat ini belum ada vaksin yang dibuat dari bahan genetik kuman yang mendapatkan persetujuan. Meskipun teknologi telah ada selama hampir 30 tahun, vaksin RNA dan DNA belum cocok dengan kekuatan pelindung dari vaksin yang ada."
"Karena keadaan yang sangat darurat, orang akan mencoba banyak solusi berbeda secara paralel. Kunci untuk menguji coba banyak calon vaksin sekaligus adalah dengan membagikan data secara terbuka diantara kelompok-kelompok para ilmuwan di seluruh dunia untuk mengindetifikasi produk vaksin covid-19 yang menjanjikan sesegera mungkin", kata Andino Pavlovsky lebih lanjut.
Tantangan Dalam Pengembangan Vaksin COVID-19
Merancang sebuah vaksin yang memberikan kekebalan dan meminimalisasi efek samping bukanlah tugas yang mudah. Vaksin coronavirus khususnya, memiliki tangtangan unik tersendiri. Meskipun para ilmuwan memang membuat vaksin kandidat untuk virus corona SARS-CoV dan MERS-CoV, ini tidak keluar dari uji klinis atau digunakan ubtuk umum., sebagian karena kurangnya sumber daya.
Salah satu hal ketika berurusan dengan virus corona adalah kemungkinan peningkatan beberapa vaksin yang menyebabkan fenomena berbahaya yang dikenal sebagai peningkatan tergantung antibodi (AED) yang secara paradoksal membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit parah setelah inokulasi.
Vaksin untuk Virus Dengue misalnya, telah menghasilkan tingkat rendah antibodi yang memandu virus ke sel-sel yang rentan daripada menghancurkan pantogen.
Stat News melaporkan, Vaksin Coronavirus untuk untuk penyakit hewan dan penyakit manusia SARS memicu efek serupa pada hewan. jadi ada beberapa kekhawatiran bahwa calon vaksin untuk SARS-CoV-2 mungkin melakukan hal yang sama. Para ilmuwan harus mengawasi tanda-tanda AED dalam semua uji coba vaksin COVID-19 dimasa mendatang. Ini mungkin studi jangka panjang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Studi AED dapat dilakukan secara paralel dengan uji coba hewan lain untuk menghemat waktu.
Jika telah berhasil ditemukan, Vaksin COVID-19 dapat menghentikan penyebaran SARS-CoV-2 dengan mengurangi orang baru terinfeksi. Infeksi COVID-19 biasanya memegang apa yang disebut jaringan mukosa yang melapisi saluran pernafasan bagian atas, dan untuk secara efektif mencegah penyebaran virus. "Tubuh anda perlu memiliki kekebalan ditempat infeksi, di hidung dan di saluran pernafasan bagian atas," kata Andino -Pavlovsky.
Baca Juga: Kenali COVID-19 Sejak Dini
Menurut buku Immunobilogi "Sistem Kekebalan Dalam Kesehatan dan Penyakit, Garland Science, 2001 "Titik-titik awal infeksi ini mudah diserap oleh patogen infeksius. Armada khusus sel-sel kekebalan terpisah dari sel-sel yang berpatroli di seluruh tubuh dan bertanggung jawab melindungi jaringan-jaringan yang rentan. Sel-sel kekebalan yang melindungi jaringan mukosa dihasilkan oleh sel-sel yang disebut limfosit yang tetap berada di dekatnya,".
Bahkan jika Vaksin COVID-19 dapat memulai respons kekebalan yang diperlukan, Para peneliti tidak yang berapa lama kekebalan itu mampu bertahan. Sementara penelitian menunjukkan bahwa coronavirus tidak bermutasi dengan cepat.
Mungkin ada sesuatu yang aneh dengan virus itu sendiri. khususnya dalam antigennya. Protein virus yang dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh dan yang menyebabkan kekebalan hilang. Atau, Coronavirus entah bagaimana bisa bermain-main dengan sistem kekebalan tubuh itu sendiri dan bisa menjelaskan penurunan kekebalan dari waktu ke waktu.
Untuk memastikan Vaksin COVID-19 dapat memberikan sistem kekebalan jangka panjang, Para ilmuwan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk jangka pendek. Mereka harus merancang eksperimen untuk menantang sistem kekebalan setelah vaksinasi dan menguji ketahanannya dari waktu ke waktu.
Tidak seperti pengobatan anti virus untuk COVID-19 yang dapat diberikan kepada pasien yang sudah terinfeksi virus, vaksin harus di uji pada berbagai populasi oang yang masih sehat.
"Karena Anda memberikannya kepada orang-orang sehat, ada tekanan besar untuk memastikan bahwa vaksin Covid-19 benar-benar aman," kata Andino Pavlovsky lebih lanjut yang terlebih lagi vaksin harus bekerja dengan baik untuk orang-orang dari berbagai usia termasuk pada orang usia lanjut yang sistem kekebalan tubuhnya semakin melemah yang menempatkan mereka beresiko tinggi terkena paparan infeksi Covid-19.
Vaksin Covid-19 dapat disetujui berdasarkan studi kecil ini yang dapat berlangsung beberapa bulan dan kemudian harus dipantau ketika populasi yang lebih besar menjadi divaksinasi.
Di masa mendatang, vaksin mungkin memerlukan bahan tambahan yang disebut Adjuvant, yang dapat mendorong sistem kekebalan tubuh yang sudah tua untuk beraksi seperti yang ditemukan dalam vaksin herpes zoster.
Sementara beberapa obat uang sudah ada, yang resiko keamanannya sudah dipahami dokter dapat digunakan kembali sebagai pengobatan COVID-19. Namun data sementara untuk vaksin coronavirus tidak ada yang pernah digunakan secara luas.
Meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para ilmuwan, Cara pintas tertentu dapat memungkinkan para ilmuwan untuk menemukan Vaksin Covid-19 lebih cepat dari yang diperkirakan.
FLU SPANYOL : PANDEMI PALING MEMATIKAN DALAM SEJARAH
MahessaBlog | Pada tahun 1918, Jenis influenza yang dikenal dengan sebutan Flu Spanyol telah menyebabkan pandemi global dalam sejarah. Flu ini menyebar dengan sangat cepat dan membunuh tanpa pandang bulu. Orang-orang muda, tua, anak-anak, sakit dan sehat semua terinfeksi yang setidaknya menyebabkan 10% pasiennya meninggal.
Rumah sakit darurat selama terjadinya Pandemi Flu Spanyol, Camp Funston, Kansas, c 1918.
(Gambar @Arsip Sejarah Otis, Museum Nasional Kesehatan dan Kedokteran).
Walaupun jumlah kematian akan Flu Spanyol belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan sepertiga populasi di dunia terinfeksi dengan menyebabkan sekitar 50 juta orang meninggal yang menjadikannya sebagai pandemi paling mematikan dalam sejarah modern.
Penyebab Flu Spanyol
Wabah ini di mulai pada tahun 1918 selama bulan-bulan terakhir terjadinya Perang Dunia Pertama dan sejarawan sekarang percaya bahwa konflik tersebut mungkin sebagian bertanggung jawab untuk menyebarkan virus ini. Di Front Barat, tentara yang hidup serba kekurangan, kotor dan lembab menjadi sakit. Hal ini terjadi akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh dari kekurangan gizi. Penyakit mereka yang dikenal sebagai "la grippe" menular dan menyebar.
Selam musim panas di tahun 1918, ketika banyak pasukan pulang dan cuti, mereka membawa serta virus yang tidak terdeteksi. Virus itu kemudian menyebar ke seluruh kota dan desa asal para prajurit. Banyak mereka yang terinfeksim baik dari prajurit maupun warga sipil. Virus ini lebih menyerang orang muda usia 20-30 tahun yang sebelumnya sehat.
Namun pada tahun 2014, sebuah teori baru yang dilaporkan oleh National Geographic menyatakan bahwa asal usul virus Flu Spanyol pertama kali muncul di Cina. Catatan-catatan sebelumnya yang mengaitkan flu dengan transportasi buruh Tiongkok, Korps Perburuhan Tiongkok di Kanada pada tahun 1917 dan 1918. Para pekerja itu kebanyakan adalah pekerja pertanian dari pedesaan terpencil di Cina.
Menurut buku "The Last Plague" (University of Toronto Press, 2013), Mereka menghabiskan waktu 6 hari dalam wadah tertutup rapat saat mereka diangkut keseluruh negeri sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Perancis. Di sana mereka diminta untuk menggali parit, membongkar kereta, meletakkan rel, membangun jalan dan memperbaiki tank yang rusak yang secara keseluruhan lebih dari 90.000 pekerja dimobilisasi ke front barat.
Humphries menjelaskan bahwa dalam satu perhitungan 25.000 pekerja Tiongkok pada tahun 1918, sekitar 3.000 pekerja Tiongkok melakukan perjalanan ke Kanada dalam karantina medis. Pada saat itu, karena stereotip rasial, para dokter di Kanada tidak menganggap serius gejala penyakit para pekerja ini.
Mengapa virus ini disebut Flu Spanyol?
Spanyol adalah negara paling awal dimana pandemi ini diindetifikasi. Spanyol adalah negara netral dalam Perang Dunia I yang tidak melakukan sensor ketat terhadap media persnya yang dengan bebas menerbitkan laporan awal penyakit tersebut. Akibatnya banyak orang-orang yang salah tafsir bahwa Spanyol adalah asal virus ini.
Menurut buku Henry Davies "The Spanish Flu" (Henry Holt & Co, 2000) menulis bahwa pada akhir musim semi tahun 1918 kantor berita Spanyol mengirim berita ke kantor berita Reuters di Inggris bahwa "wabah penyakit yang aneh dari karakter epidemi telah muncul di Madrid". Walaupun epidemi ini bersifat ringan dan tidak ada kematian yang dilaporkan, Namun dalam dua minggu setelah pelaporan ini, lebih dari 100.000 orang telah terinfeksi.
Selain 100.000 orang biasa terinfeksi flu, Raja Spanyol Alfonso XIII bersama dengan para politisi terkemuka terinfeksi flu ini. Antara 30% - 40% orang yang bekerja atau tinggal di daerah keramaian seperti sekolah, barak atau gedung pemerintah, terinfeksi. Layanan pada sistem trem Madrid harus dikurangi menjadikannya layanan telegraf terganggu. Dalam beberapa kasus tidak ada cukup karyawan sehat yang tersedia untuk bekerja karena persediaan dan layanan medis tidak dapat memenuhi permintaan.
Baca Juga: Kenali Virus Corana Sejak Dini
Istilah "Flu Spanyol" dengan cepat mulai berlaku di Inggris. Menurut buku Niall Johnson "Inggris Dan Pandemi Influenza 1918-1919" (Routledge, 2006). pers Inggris menyalahkan epidemi flu di Spanyol. pada cuaca Spanyol "..... Musim semi Spanyol yang kering dan berangin adalah musim yang tidak menyenangkan dan tidak sehat,". Debu yang mengandung mikroba disebarkan oleh angin kencang dari Spanyol yang berarti bahwa iklim basah di Inggris menerima mikroba virus ini.
Anggota Palang Merah memberi penyuluhan di Stasiun Ambulans Darurat di Washibgton DC selama Pandemi Flu Spanyol1918 (sumber gambar: Linrary of Congress)
Apa saja Gejala Flu Spanyol?
Gejala awal Flu Spanyol seperti sakit kepala dan kelelahan yang diikuti dengan batuk kering, kehilangan nafsu makan, masalah pada perut dan kemudian pada hari kedua berkeringat secara berlebihan. Selanjutnya pernyakit ini dapat mempengaruhi organ pernafasan yang berkembang menjadi pneumonia atau komplikasi pernafasan lainnya yang disebabkan oleh flu yang sering menjadi penyebab utama kematian.
Pada musim panas 1918, Flu Spanyo dengan sangat cepat menyebar ke negara-negara lainnya di daratan Eropa seperti Austria, Rumania, Hongaria; Jerman dan juga Perancis. Banyak anak-anak di sekolah-sekolah Berlin di laporkan sakit dan absen dari sekolah dan ketidakhadiran pekerja di pabrik persenjataan.
Pada 25 Juni 1918, Epidemi Flu Spanyol mencapai Inggris dan pada bulan Juli, Epidemi ini telah memukul perdagangan tekstil di London dengan sangat keras dengan satu pabrik harus kehilangan 400 pekerja pulang sakit dalam satu malam saja, menurut "Pandemi Influenza Spanyol tahun 1918-1919," Perspektif Baru (Routledge, 2013).
Epidemi telah dengan cepat menjadi pandemi menyebar ke seluruh dunia. Pada Agustus 1918, Enam Pelaut Kanada tewas di Sungai St. Lawrence. Pada bulan yang sama, kasus-kasus lainnya dilaporkan oleh tentara Swedia. Pada bulan September 1918, Flu Spanyol mencapai Amerika Serikat melalui Pelabuhan Boston.
Pada saat itu dokter tidak tahu apa yang harus direkomendasikan kepada para pasien. banyak dokter mendesak orang untuk menghindari tempat ramai dan yang lainnya menyarankan untuk mengkonsumsi kayu manis, minum anggur atau kaldu sapi. Dokter juga meyarankan kepada orang-orang untuk menjaga mulut dan hidung mereka dengan masker di depan umum. Pada satu titik, penggunaan aspirin disalahkan sebagai penyebab pandemi, padahal aspirin sebenarnya bisa membantu bagi mereka yang terinfeksi.
Pada 28 Juni 1918, sebuah pemberitahuan publik muncuk di koran-koran Inggris yang memberitahu orang-orang tentang gejala Flu Spanyol, Namun ini ternyata sebenarnya adalah sebuah iklan untuk Formamints, Tablet yang dibuat dan dijual oleh perusahaan vitamin. Bahkan ketika orang-orang tengah sekarat, ada uang yang bisa dihasilkan dari iklan "obat" palsu. Iklan tersebut menyatakan bahwa "cara terbaik untuk mencegah infeksi adalah setiap orang termasuk anak-anak harus menghisap empat atau lima tablet ini sehari sampai mereka merasa lebih baik.
Orang Amerika ditawari cara serupa tentang cara pencegahan infeksi. Mereka disarankan untuk tidak berjabat tangan dengan orang lain, untuk tetap di dalam rumah serta menghindari buku-buku di perpustakaan. Sekolah dan teater ditutup dan Departemen Kesehatan kota New York secara ketat menegakkan amandemen Kode Sanitasi yang membuat meludah di jalan umum adalah ilegal, menurut sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam journal Public Health Repots.
Perang Dunia I mengakibatkan kekurangan dokter di beberapa negara karena banyak dokter juga terinfeksi. Sekolah dan bangunan besar lainnya menjadi rumah sakit darurat dengan mahasiswa kedokteran harus menggantikan para dokter dalam beberapa kasus.
Para pejabat di kota-kota besar banyak yang histeris. Warga di desak untuk tetap tinggal di rumah dengan menghindari keramaian. Dalam gambar ini para polisi berpatroli di jalan-jalan untuk memastikan keselamatan warganya. (sumber gambar: Arsip Nasional AS)
Berapa banyak orang yang meinggal dalam Pandemi Flu Spanyol?
Pada musim semi 1919, jumlah kematian akibat Flu Spanyol menurun. Negar-negara dibiarkan hancur setelah wabah karena para profesional medis tidak mampu menghentikan penyebaran penyakit. Pandemi menggemakan apa yang terjadi 500 tahun tahun sebelumnya, Ketika Kematian Hitam mendatangkan kekacauan di seluruh dunia.
Dalam buku Nancy Bristow yang berjudul "American Pandemic: The Lost World of the Influenza Pandemic 1918" (Oxford University Press, 2016) menjelaskan bahwa Flu Spanyol menyerang sebanyak 500 juta orang di seluruh dunia yang pada saat ini mewakili sepertiga dari populasi global. Sebanyak 50 juta orang meninggal karena virus ini, meskipun angka sebenarnya mungkin lebih tinggi.
Bristow memperkirakan bahwa virus tersebut menginfeksi sebanyak 25% populasi di AS, Flu Spanyol telah membunuh 675.000 orang Amerika pada akhir Oktober 1918. Hal ini berdampak sangat parah sehingga pada tahun 1918 harapan hidup Amerika berkurang 12 tahun.
Mayat menumpuk sedemikian rupa sehingga kuburan kewalahan dan keluarga harus menggali kuburan untuk kerabat mereka sendiri. Kematian tersebut mencuptakan kekurangan pekerja pertanian yang dapat mempengaruhi hasil panen di akhir musim panas. Seperti di Inggris, kurangnya staff dan sumber daya membuat layanan lain seperti pengunpulan sampah di bawah tekanan.
Pandemi Flu Spanyol juga menyebar ke Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Pasifik Selatan. Di India angka kematian mencapai 50 kematian per 1.000 orang.
Perawat menyiapkan masker untuk mencegah penyebaran Flu Spanyol pada tahun 1918, (sumber gambar: Arsip Nasional AS).
Bagaimana Flu Spanyol Jika Dibandingkan dengan Flu Musiman?
Flu Spanyol tetap menjadi pandemi paling mematikan dalam sejarah hingga saat ini setelah membunuh sekitar 1 - 3% populasi dunia.
Pandemi flu yang sebanding yang paling baru terjadi pada tahun 2009 hingga 2010, setelah bentuk baru dari strain H1N1 muncul. Penyakit ini dinamai "Flu Babi" karena virus yang menyebabkan mirip dengan yang ditemukan pada Babi (Bukan karena virus berasal dari Babi).
Flu Babi menyebabkan penyakit pernafasan yang menewaskan sekitar 151.700 - 575.400 orang diseluruh dunia pada tahun pertama menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang artinya sekitar 0,001 hingga 0,007% dari populasi dunia. Jadi pandemi Flu Babi jauh lebih tidak berdampak dibandingkan dengan Pandemi Flu Spanyol 1918.
Vaksin untuk jenis influenza yang menyebabkan flu babi sekarang termasuk dalam vaksin flu tahunan. Orang-orang masih meninggal setiap tahunnya akibat flu ini walaupun jumlahnya jauh lebih rendah yang rata-rata dibandingkan pandemi flu babi atau pandemi flu Spanyol. Epidemi tahunan flu musiman mengakibatkan sekitar 3 juta - 5 juta orang mengalami kasus parah dan sekitar 290.000 hingga 650.000 kematian, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Editor: Rey Mahessa
Sumber: LiveScience.com
DEXA MEDICA DONASIKAN OBAT UNTUK PASIEN COVID-19 INDONESIA
Bapak Hery Sutanto, Direktur PT. Dexa Medica.
MahessaBlog | Keadaan pandemi Corona atau Covid-19 yang tengah melanda Indonesia dan seluruh dunia membuat PT. Dexa Medica merasa khawatir akan keadaan ini. Untuk itu PT. Dexa Medica terus mendukung pemerintah Indonesia untuk membantu memproduksi obat untuk penderita yang terinfeksi virus corona sesuai dengan kemampuannya.
MahessaBlog | Keadaan pandemi Corona atau Covid-19 yang tengah melanda Indonesia dan seluruh dunia membuat PT. Dexa Medica merasa khawatir akan keadaan ini. Untuk itu PT. Dexa Medica terus mendukung pemerintah Indonesia untuk membantu memproduksi obat untuk penderita yang terinfeksi virus corona sesuai dengan kemampuannya.
Walaupun bahan untuk obat ini sangat sulit untuk didapatkan, Namun atas dukungan pemerintah melalui BPOM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Perindustrian bisa mendatangkan bahan obat hydroxy chloroquine yang sedang menjadi rebutan di seluruh dunia untuk bisa datang ke Indonesia.
Saat ini PT. Dexa Medica telah mendonasikan 100.000 tablet hydroxy chlorquine 200 mg, 50.000 tablet azithromycin 500 mg untuk disalurkan ke 5000 pasien korban virus corona di seluruh Rumah Sakit Rujukan Covid-19 dan Rumah Sakit Pemerintah yang menangani pasien Covid-19 di Indonesia.
Selanjutnya PT Dexa Medica juga akan mendonasikan 240 ribu tablet chloroquine 250 mg untuk 12 ribu pasien Covid-19. Dengan biaya yang mencapai sekitar Rp. 5.1 miliar itu, PT Dexa Medica juga akan mendonasikan APD kepada para dokter dan para medis yang menangani pasien Covid-19 serta mensuplai vitamin dan suplemen lainnya yang dibutuhkan untuk para garda terdepan tenaga medis kita, seperti yang dijelaskan oleh Bapak V. Hery Sutanto, Commercial Director PT. Dexa Medica dan Bapak Tarcisius Randy, Sales Director OGB-Zeta di Kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, BNPB di Jakarta pada Selasa 7 April 2020 yang juga turut hadir Kepala Badan POM RI Dr. Ir Penny Kusumastuti Lukito MCP beserta jajarannya.
Video Penyerahan Donasi dari PT. Dexa Medica
Obat-obatan ini adalah obat keras. Penggunaannya hanya untuk pasien yang sakit dan bukannya sebagai obat pencegahan, sehingga dilarang keras untuk diperdagangkan di luar rumah sakit serta jatuh ke tangan traders, spekulan atau ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Seperti diketahui bahwa hydroxy chlorquine adalah obat yang digunakan untuk mencegah penyakit malaria yang merupakan penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit seperti plasmodium, malariae, Plasmodium ovale, Plasmodium vivak atau Plasmodium falcifarum. Selain untuk malaria, obat ini juga digunakan untuk menangani penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh atau autoimun seperti lupus dan peradangan sendi.
Sementara itu azithromycin adalah obat antibiotik yang digunakan untuk pengobatan sejumlah infeksi seperti infeksi telinga tengah, radang tenggorokan, radang paru-paru dan infeksi usus tertentu.Azitthromycin juga dapat digunakan untuk sejumlah infeksi menular seksual seperti infeksi klamida atau gonore.
Selanjutnya chlorquine adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati malaria. Obat ini bersifat sisontosida darah dan gametosida P.vivak dan P. malariae.
Dengan filosofi Expertise for the Promotion of Health, PT Dexa Medica berharap semoga Indonesia bisa cepat segera pulih dari pandemi Covid-19.
Editor: Rey Mahessa
Sumber: BNPB Indonesia
Editor: Rey Mahessa
Sumber: BNPB Indonesia
LANGKAH-LANGKAH PERLINDUNGAN DASAR TERHADAP COVID-19
MahessaBlog | Penyakit Korona Virus 2019 atau COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 salah satu jenis dari koronavirus. Wabah ini pertamakali di catat di Wuhan, provinsi Hubei, Cina pada Desember 2019 dan telah menyebar luas dengan sangat cepat ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.
Walaupun demikian di sini Anda harus tetap mengetahui informasi terbaru tentang wabah COVID-19 yang banyak tersedia di situs who.int atau melalui otoritas publik nasional dan lokal di tempat Anda. Jaga kesehatan Anda dari bahaya COVID-19 dan lindungi orang lain dengan melakukan hal-hal berikut ini seperti yang kami lansir dari laman who.int :
1. Cuci Tangan Anda Sesering Mungkin
Secara teratur dan menyeluruh bersihkan tangan Anda dengan menggunakan kandungan alkohol atau cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air.
Mengapa? Mencuci tangan dengan sabun dan air atau yang mengandung alkohol dapat membunuh virus yang mungkin ada di tangan Anda.
Baca Juga: Kenali Virus Korona Sejak Dini
2. Pertahankan Jarak Sosial
Pertahankan jarak setidaknya 1 meter antara Anda dengan siapa saja yang batuk atau bersin.
Mengapa? Ketika seseorang batuk atau bersin, Mereka akan menyemprotkan cairan kecil dari hidung atau mulut mereka yang mungkin mengandung virus. Jika Anda terlalu dekat, Anda bisa menghirup tetesan air, termasuk virus COVID-19 jika orang tersebut menderita batuk.
3. Hindari Untuk Menyentuh Mulut, Mata dan Hidung
Mengapa? Ketika tangan menyentuh banyak permukaan yang dapat membawa virus, Setelah terkontaminasi, tangan dapat memindahkan virus ke mata, hidung atau mulut . Dari sana virus dapat masuk ke dalam tubuh Anda yang bisa membuat Anda tertular.
Baca Juga: Inilah 10 Virus Paling Mematikan di Dunia
4. Lakukan Pembersihan Pernafasan
Pastikan Anda dan orang-orang disekitar Anda, mengikuti kebersihan pernafasan yang baik, Anda melindungi orang-orang di sekitar Anda dari virus seperti flu atau Covid-19. Jika Anda mengalami demam, batuk dan kesulitan bernafas, pergilah ke dokter untuk pemeriksaan lebih dini.
5. Tetap di Rumah
Tetap di rumah jika Anda merasa kurang sehat. Jika Anda mengalami demam, batuk dan kesulitan bernafas, cari bantuan medis dan ikuti arahan otoritas kesehatan tempat Anda.
Mengapa? Otoritas nasional dan lokal akan memiliki informasi terbaru tentang situasi di wilayah Anda. Menelepon terlebih dahulu akan memungkinkan penyedia layanan kesehatan Anda dengan cepat mengarahkan Anda ke fasilitas kesehatan yang tepat. Hal ini juga akan melindungi Anda dan membantu mencegah penyebaran virus COVID-19 dan infeksi lainnya.
6. Tetap Terinformasi Dan Ikuti Saran Yang Diberikan Oleh Penyedia Layanan Kesehatan Anda.
Tetap terinformasi perkembangan terbaru tentang COVID-19. Ikuti saran yang diberikan penyedia layanan kesehatan Anda tentang cara melindungi diri sendiri dan orang lain dari COVID-19.
Mengapa? Otoritas nasional dan lokal akan memiliki informasi terbaru tentang apakah COVID-19 telah menyebar ke wilayah Anda dan memberikan nasehat tentang apa yang harus dilakukan orang di wilayah Anda untuk melindungi diri mereka sendiri.
Langkah-langkah perlindungan untuk orang-orang yang berada dalam atau baru-baru ini mengunjungi 14 hari terakhir di area dimana COVID-19 telah menyebar coba ikuti panduan dibawah ini:
Tetap di rumah jika Anda merasa tidak sehat bahkan seperti gejala ringan seperti sakit kepala, hidung meler sampai Anda benar-benar pulih.
Baca Juga: Peneliti Temukan 6 Virus Baru
Mengapa? Menghuindari kontak langsung dengan orang lain dan mengunjungi fasilitas medis akan memungkinkan lebih efektif, Membantu melindungi Anda dan orang lain dari kemungkinan terkena COVID-19 dan virus lainnya.
Jika Anda mengalami demam, batuk, dan sulit bernafas, segera dapatkan saran medis karena ini mungkin disebabkan oleh infeksi pernafasan atau kondisi serius lainnya. Hunungi dan beritahu penyedia layanan kesehatan.
Mengapa? Menelepon terlebih dahulu akan memungkinkan penyedia layanan kesehatan Anda dengan cepat mengarahkan Anda ke fasilitas kesehatan yang tepat. Hal ini juga dapat membantu mencegah kemungkinan penyebaran COVID-19 dan virus lainnya.
Selain itu Anda juga diwajibkan untuk mengenakan masker, mengkonsumsi gizi yang seimbang dengan memperbanyak sayur dan buah, berhati-hati kontak dengan hewan, Rajin berolahraga dan istirahat yang cukup, Jangan mengkinsumsi daging yang tidak dimasak. Semoga Anda dan keluarga terhindar dari bahaya COVID-19 dan wabah ini segera cepat hilang dari lingkungan masyarakat.
KENALI VIRUS CORONA SEJAK DINI
MahessaBlog | Virus Corona atau COVID-19 adalah virus yang dapat menyerang sistem pernafasan pada siapa saja termasuk bayi, anak-anak, orang dewasa hingga lansia. Infeksi virus ini pertamakali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 dan telah menyebar ke banyak negara termasuk Indonesia.
Cara penularan dari Virus Corona
Baca Juga: Seberapa mematikankah Virus Corona bagi manusia?
Tanda-Tanda Umum Terinfeksi Virus Corona
Gejala pernafasan, demam, batuk, sesak nafas dan kesulitan bernafas. Sementara penderita virus corona parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernafasan akut, gagal ginjal hingga kematian. Menurut penelitian gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hingga 14 hari setelah terpapar Virus Corona.
Rekomendasi standart untuk mencegah penyebaran Virus Corona
Pencegahan Infeksi Virus Corona
Hingga saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah infeksi virus corona atau COVID-19. Oleh sebab itu cara pencegahan terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini seperti:
Untuk menentukan apakah Anda terinfeksi Virus Corona, Segera pergi ke dokter apabila Anda menemukan gejala-gejala seperti di atas serta untuk menentukan apakah Anda terkena Virus Corona dimana dokter akan menanyakan gejala yang anda alami serta menanyakan apakah Anda berpergian ke wilayah endemik atau sebaliknya serta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan seperti uji sampel darah, tes usap tenggorokan hingga rontgen dada untuk mendeteksi cairan di paru-paru.
Cara penularan dari Virus Corona
- Tidak sengaja menghirup percikan bersin dari penderita COVID-19
- Memegang mulut atau hidung penderita tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
- Bersentuhan atau kontak langsung dengan penderita COVID-19.
Baca Juga: Seberapa mematikankah Virus Corona bagi manusia?
Tanda-Tanda Umum Terinfeksi Virus Corona
Gejala pernafasan, demam, batuk, sesak nafas dan kesulitan bernafas. Sementara penderita virus corona parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernafasan akut, gagal ginjal hingga kematian. Menurut penelitian gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hingga 14 hari setelah terpapar Virus Corona.
Rekomendasi standart untuk mencegah penyebaran Virus Corona
- Mencuci tangan secara teratur
- menutup mulut atau hidung ketika batuk atau bersin
- Memasak daging atau telur dengan seksama
- Hindari kontak dekat dengan siapapun yang menunjukkan gejala penyakit pernafasan seperti batuk atau bersin.
Pencegahan Infeksi Virus Corona
Hingga saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah infeksi virus corona atau COVID-19. Oleh sebab itu cara pencegahan terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini seperti:
- Hindari kontak langsung dengan penderita COVID-19.
- Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
- Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.
- Hindari kontak dengan hewan liar.
- Tutup mulut dan hidung saat Anda batuk atau bersin.
Untuk menentukan apakah Anda terinfeksi Virus Corona, Segera pergi ke dokter apabila Anda menemukan gejala-gejala seperti di atas serta untuk menentukan apakah Anda terkena Virus Corona dimana dokter akan menanyakan gejala yang anda alami serta menanyakan apakah Anda berpergian ke wilayah endemik atau sebaliknya serta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan seperti uji sampel darah, tes usap tenggorokan hingga rontgen dada untuk mendeteksi cairan di paru-paru.
SEBERAPA MEMATIKANKAH VIRUS CORONA BAGI MANUSIA?
MahessaBlog | Sebagian besar orang yang terkena Virus Corona SARS-Cov-2 baru dapat disembuhkan, Namun ada beberapa diantaranya harus rawat inap untuk melawan virus ini. Namun seberapa mematikankah virus corona bagi manusia?
ilustrasi: pasien virus corona
Hingga saat ini para ilmuwan belum dapat memastikan berapa tingkat kematian dari wabah virus corona, karena hingga saat ini para ilmuwan belum yakin berapa banyak orang yang terinfeksi. Namun menurut para ilmuwan virus corona atau COVID-19 sangat berbahaya bagi pasien usia lanjut dan mereka yang memiliki riwayat kesehatan yang sudah ada sebelumnya.
Menurut direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa sekitar 3,4% dari pasien COVID-19 yang dilaporkan sari seluruh dunia telah meninggal. Dalam data analisis di Cina atas lebih dari 72.000 catatan kasus, 2,3% dari mereka yang terkena paparan virus corona dikonfirmasi telah meninggal dengan pasien berusia diatas 80 tahun memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi yaitu sekitar 14,8%. Paien berusia lebih dari 70 tahun memiliki tingkat kematian hingga 8%.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kematian akibat virus corona baru ini adalah kualitas perawatan medis. Sudah ada bukti bahwa kewalahannya sistem medis di Wuhan, tempat wabah virus corona pertamakali terdeteksi ini menyebabkan lebih banyaknya jumlah kematian. Hal ini berarti lebih sedikit orang yang meninggal karena virus corona jika sistem medis dipersiapkan dengan baik untuk menerima masuknya pasien virus corona.
Hal ini dapat terjadi karena pada awalnya jenis penyakit ini masih diremehkan dengan tidak pernah memeriksakan dirinya ke dokter. Namun ketika wabah virus corona mulai meluas dan para ilmuwan mulai menggunakan metode retrospektif untuk mempelajari anti virus corona yang mengalir dalam darah manusia, jumlah pasien SARS-Cov-2 mulai berkurang dengan resiko kematian akan infeksi virus corona semakin menurun.
Asal Usul Virus Corona
Virus Corona atau SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan penyakit COVID-19 pertamakali diindetifikasi di kota Wuhan, Cina pada 31 Desember 2019 setelah beberapa orang mengalami pneumonia tanpa sebab yang jelas dan prosedur perawatan dan vaksin yang diberikan ternyata tidak efektif. Sejak saat itu virus corona telah menyebar keseluruh penjuru dunia kecuali Antartika. Tingkat kematian lebih tinggi berdasarkan pada lokasi, usia seseorang, kondisi kesehatan serta faktor-faktor lainnya.
Baca Juga: 9 Manfaat Daun Bawang Hijau Bagi Kesehatan
Hingga saat ini para ilmuwan belum yakin dari mana virus corona berasal, meskipun mereka tahu bahwa virus corona seperti halnya SARS atau MERS ditularkan melalui hewan ke manusia. Penelitian yang membandingkan urutan geneteik SARS-CoV-2 dengan database virus menunjukkan bahwa virus corona berasal dari kelelawar. Karena tidak ada kelelawar yang dijual di pasar makanan laut di Wuhan, Para peneliti mengalihkannya bahwa viris corona berasal dari trenggiling (mamalia yang terancam punah) yang bertanggung jawan menularkan virus corona kepada manusia.
Hingga saat ini belum ada perawatan khusus untuk menangani penyakit ini tetapi para ilmuwan di laboratorium sedang meneliti dan mengerjakan berbagai kenis perawatan termaksuk vaksin.
Editor: Rey Mahessa
Sumber: LiveScience.com






















