10 HEWAN ASLI PAPUA INI TERANCAM PUNAH

Rate this posting:
{[['']]}

Bagikan Artikel

10 Hewan Asli Papua Ini Terancam Punah  

"Hewan -hewan endemik asli Papua ini terancam punah akibat berkurangnya habitat asli mereka serta perburuan secara liar"

Hewan asli Papua

Mahessa83 - Papua yang terletak di bagian paling timur Indonesia merupakan daerah yang kaya akan budaya hingga flora dan faunanya. Papua juga sangat identik dengan Burung Cendrawasih yang saat ini terancam dari kepunahan. Seperti juga Burung Cendrawasih, Hewan -hewan endemik asli Papua lainnya juga terancam punah seperti Hiu Karpet Berbintik, Kanguru Pohon Mantel Emas atau Burung Nuri Sayap Hitam akibat berkurangnya habitat asli mereka serta perburuan secara liar

Berikut 10 Hewan Asli Papua Yang Terancam Punah jika kita tidak menjaga dan melestarikannya.

1. Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea Rubra)


Burung Cendrawasih Merah

Burung Cendrawasih Merah (Paradisaea Rubra) adalah hewan endemik Papua. Burung ini berwarna kuning dan cokelat serta berparuh kuning. Burung jantan dewasa berikuran sekitar 72 centimeter termasuk bulu-bulu hiasan berwarna merah darah dengan bagian ujung berwarna putih pada bagian sisi perutnya. Bulu muka berwarna hijau zamrud dengan diekornya terdapat dua buah tali yang panjang berbentuk pilin ganda berwarna hitam. 

Hewan endemik asli Papua ini hanya dapat ditemukan di hutan hujan dataran rendah Pulau Waigeo dan Batanta di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. 

Berdasarkan dari hilangnya banyak habitat hutan yang terus berkelanjutan, serta populasi kehidupan burung ini sangat terbatas, Burung Cendrawasih Merah ini beresiko terancam punah.    

2. Hiu Karpet Berbintik (Hemyscillium Freycineti)


Hiu Karpet Berbintik

Hiu Karpet Berbintik (Hemyscillium Freycineti) adalah hewan endemik asli Papua berikutnya. Hiu Karpet Berbintik ini termasuk hewan bertulang belakang. Jenis hiu ini juga termasuk pada jenis Hiu Bambu yang hanya dapat ditemukan di Perairan Kepulauan Raja Ampat. 

Bentuk Hiu Karpet Berbintik pada dasarnya sama dengan jenis hiu lainnya di dunia. Bedanya Hiu Karpet Berbintik memiliki warna kulit seperti macan tutul. Pola tersebut berbentuk heksagonal berwarna cokelat. 

Hiu Karpet Berbintik merupakan salah satu Hewan Endemik Papua yang hampir punah. Oleh karena itu hewan ini dilindungi oleh negara. Berkurangnya populasi hewan ini akibat habitat asli mereka yaitu berupa terumbu karang banyak yang rusak. Kerusakan terumbu karang ini sebagain besar diakibatkan penangkapan ikan oleh nelayan menggunakan dinamit. Keindahan Hiu Karpet Berbintik ini juga banyak diminati orang untuk dijadikan ikan hias di aquarium. Meningkatnya permintaan akan Hiu Karpet Berbintik dan harganya yang mahal menjadikan Ikan Hiu Karpet Berbintik ini banyak diburu orang. 

3. Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus Pulcherrimus)


Kanguru Pohon Mantel Emas

Kanguru Pohon Mantel Emas  (Dendrolagus Pulcherrimus) adalah sejenis Kanguru Pohon yang hanya dapat ditemukan di hutan pegunungan Papua. Spesies ini memiliki rambut-rambut halus pendek berwarna cokelat muda. Leher, pipi dan kakinya berwarna kekuningan. Sisi bawah perut berwarna putih pucat dengan dua garis keemasan dipunggungnya.Ekor panjang dan prehensil dengan lingkaran-lingkaran terang.

Keberadaan Kanguru Pohon Mantel Emas merupakan salah satu jenis kanguru pohon yang paling terancam punah dari habitat asli mereka.

4. Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius Unappendiculatus)


Kasuarui Gelambir Tunggal

Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius Unappendiculatus) yang juga dikenal sebagai Kasuari Leher Ems adalah burung yang tidak bisa terbang yang berasal dari Utara Papua. Burung dari anggota keluarga superorder paleognathae biasanya hidup menyendiri dan berpasangan hanya pada musim biak saja. 

Penangkapan secara liar dan berkurangnya habitat asli mereka mengancam keberadaan spesies ini menuju kepunahan.  

5. Nuri Sayap Hitam (Eos Cynogenia)


Nuri Sayap Hitam

Nuri Sayap Hitam (Eos Cynogenia) adalah sejenis nuri berukuran sedang dengan panjang sekitar 30 sentimeter. Endemik asli Indonesia ini hanya dapat ditemukan di hutan-hutan di pesisir Pulau Biak dan pulau-pulau di Teluk Cendrawasih, Papua. 

Dikarenakan banyak berkurangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut serta populasi mereka yang semakin hari semakin berkurang menjadikan Burung Nuri Sayap Hitam ini terancam dari kepunahan. 

6. Mambruk Victoria (Goura Victoria)


Mambruk Victoria

Mambruk Victoria (Goura Victoria) adalah salah satu dari tiga jenis burung Dara Mahkota dan merupakan spesies terbesar diantara jenis-jenis Burung Merpati. Burung berukuran besar dengan panjang mencapai 74 sentimeter ini memiliki bulu berwarna biru keabu-abuan, jambul seperti kipas dengan warna putih, dada merah marun keunguan, paruh abu-abu, kaki berwarna merah kusam, dan garis tebal berwarna abu-abu pada sayap dan ujung ekornya. 

Hewan yang tinggal di daratan rendah Pulau Papua ini terncam punah akibat banyak diburu secara liar untuk diambil daging dan bulunya. Saat ini Mambruk Victoria sudah jarang ditemuidi daerah dekat populasi manusia.

7. Kanguru Pohon Mbaiso (Dendrolagus Mbaiso)


Kanguru Pohon Mbaiso

Hewan endemik Papua, Kanguru Pohon Mbaiso (Dendrolagus Mbaiso) hidup di Taman Nasional Lorenz, Papua. Hewan yang termasuk dari keluarga Macropopidae Satwa ini merupakan spesies sub-alpin, yakni berada di daerah pegunungan bawah dengan ketinggian 2700-3500 m dpl dan vegetasi hutan basah serta memiliki banyak kanopi dengan ketinggian mencapai 10-15 m. Dingiso adalah asli pohon-kanguru dan endemik Western New Guinea dari Indonesia, di mana ia tinggal di hutan hujan pegunungan di Tembagapura kasar dan Kwiyawagi pegunungan Sudirman Rentang pada ketinggian dari 2700-4200 m, tepat di bawah garis pohon . Dingiso memiliki ekor panjang, bagian belakangnya berkembang dengan baik dan bergerak baik hindfeet pada saat yang sama dalam kiprah khas . Telapak kaki yang besar menanggung bantalan seperti bantalan kursi ditutupi dengan kulit yang kasar yang, dalam kombinasi dengan kuku melengkung, memberikan pegangan mahir pada batang dan cabang pohon. Panjang, ekor berbulu membantu itu menyeimbangkan ketika bergerak melalui pohon-pohon dan kawat gigi itu seperti naik. Bulu yang cukup panjang sebagian besar hitam, selain dari tanda putih pada hamster dan wajah.

Kelestarian hewan ini semakin mengkhawatirkan dikarenakan populasinya yang terus berkurang hingga 50% selama lebih dari 3 dekade ini. Hal ini disebabkan akibat meningkatnya aktivitas manusia seperti berburu dan membuka lahan baru untuk pertanian serta perubahan iklim. 

8. Kasuari Kerdil (Casuarius Bennetti)


Kasuari Kerdil

Kasuari Kerdil (Casuarius bennetti) adalah kasuari paling kecil. Meskipun menyandang gelar kerdil, namun burung asli pulau Papua ini masih cukup raksasa dengan tingi mencapai 1 meter lebih. Kasuari Kerdil tetaplah burung berukuran besar, hanya sedikit lebih kecil jika dibandingkan kedua spesies kasuari lainnya, yaitu Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus), dan Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius).

Burung Kasuari Kerdil atau Casuarius bennetti dikenali dengan ciri khas pada gelambirnya yang tidak menggantung. Juga bentuk tanduknya yang segitiga dengan bagian belakang pipih. Tinggi tubuhnya mencapai 1,1 meter dengan panjang hingga 150 dan berat badan kasuari dewasa antara 17 – 26 kg. Ukuran ini memang lebih kecil dibandingkan dengan dua spesies kasuari lainnya yaitu Kasuari Gelambir Tunggal dan Kasuari Gelambir Ganda.


Bulu burung Kasuari Kerdil berwarna hitam mengkilat, bahkan lebih kelam dibandingkan dua spesies lainnya. Kulit pada leher berwarna biru cerah dengan bagian samping leher berwarna merah.

Burung Kasuari Kerdil atau Dwarf Cassowary mendiami pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini), pulau Seram, pulau Yapen, dan New Britania. Habitatnya adalah daerah hutan pengunungan dan perbukitan hingga dataran rendah.

Jumlah populasi tidak diketahui secara pasti tetapi diduga mengalami penurunan populasi secara pesat. Penurunan populasi tersebut diakibatkan oleh perburuan dan rusaknya habitat asli mereka.

9. Burung Cendrawasih Mati-Kawat (Seleucidis Melanoleuca)


Burung Cendrawasih Mati Kawat

Cendrawasih Mati-Kawat (Seleucidis Melanoleuca) adalah Burung Cendrawasih berukuran sedang dengan panjang sekitar 33 sentimeter. Burung jantan dewasa mempunyai bulu berwarna hitam mengilap, pada bagian sisi perutnya dihiasi bulu-bulu berwarna kuning dan duabelas kawat berwarna hitam. Burung ini berparuh panjang lancip berwarna hitam dengan iris mata berwarna merah. Burung betina berwarna coklat, berukuran lebih kecil dari burung jantan dan tanpa dihiasi bulu-bulu berwarna kuning ataupun keduabelas kawat di sisi perutnya.

Burung Cendrawaih Mati-Kawat hanya dapat ditemukan di Hutan Dataran Rendah Pulau Papua yang keberadaannya kini terancam punah. 

10. Kura-Kura Reimani (Chelodina Reimanni) 


Kura-Kura Reimani

Saat ini diketahui bahwa penyebaran kura-kura berkepala ular ini hanya ada berada di satu lokasi yaitu di Merauke. Sedangkan status taksonomi masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sebab data biologi, ekologi dan populasi di alamnya masih belum ada, walaupun telah ada catatan mengenai jenis ini di penangkaran. Status Kura-kura Reimani pada IUCN adalah Lower Risk dan tidak dilindungi sehingga sangat rentan dari kepunahan.

Nah itulah 10 Hewan Asli Papua yang terancam punah jika kita tidak menjaga, melindungi dan melestarikannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua. 

Share Artikel :

Daftar di sini dengan alamat email Anda untuk menerima update dari blog ini di inbox Anda..

2 Responses to "10 HEWAN ASLI PAPUA INI TERANCAM PUNAH"

  1. gimana nih satwa fauna asli indonesia yg cantik-cantik kok dibiarkan mau punah, atau memang disengaja agar image indonesia surga dunia itu hilang... dijawa burung merak jg langka susah ditemui padahal dulu banyak, kera jawa hampir punah, harimau jawa dikatakan punah,,,, sebagai warga JATIM tolong mbok hutan dilereng wilis dikembalikan ke identitas aslinya sbg hutan lindung dijadikan wisata alam seperti Baluran saja..

    ReplyDelete
  2. wisatawan asing itu datang ke indonesia tujuannya pengen melihat budaya unik daerah, makanan yg enak unik dan murah, wisata alam yg indah dan aman, flora fauna langka yg hanya ada di indonesia.... tugas pemerintah cuma memfasilitasi dan memberikan ases perhubungan yg cepat praktis aman sampai tujuan. disisi lain menjaga ekosistem alam agar fauna tdk punah. kalo negara gak kuat membiayai pakan hewan ya libatkan saja swasta.. kan banyak pecinta hewan dari kalangan swasta yg super kaya. dengan catatan tdk diperdagangkan dan terus dipantau dan didampingi dinas peternakan dan pariwisata. syukur-syukur pemda menyediakan hutan lindung khusus fauna agar mereka mencari makanannya sendiri di Hutan mirip di Baluran.

    ReplyDelete

Berkomentarlah sesuai topik artikel. Komentar yang tidak relevan dengan topik artikel akan terhapus.