MISTERI MANUSIA BERBUNTUT DI PEDALAMAN KALIMANTAN

Misteri Manusia Berbuntut Di Pedalaman Kalimantan 

"Tjiropon tetap bersikukuh dengan pendiriannya bahwa "Manusia Berekor" tersebut memang benar-benar ada. "Demi Allah Saya pernah melihat"Orang Boentoet" beberapa tahun yang silam dan berbicara kepada mereka,"

Manusia Berbuntut

Mahessa83 -Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki banyak ragam budaya. Selain memiliki kekayaan alam yang melimpah Indonesia juga dikenal sebagai surganya Wisata Kuliner yang unik namun tetap nikmat. Terakhir, Indonesia juga banyak memiliki cerita misteri yang banyak diburu oleh para arkeolog. Salah satunya adalah keberadaan Manusia Berbuntut Dipedalaman Hutan Kalimantan yang diceritakan dalam buku "Head Hunters of Borneo" yang diterbitkannya pada tahun 1881 oleh Carl Alfred Bock masih menyimpan misteri hingga sekarang.

Carl Alfred Bock merupakan seorang naturalis dan pelancong berkebangsaan Norwegia. Ia pernah melakukan perjalanan ke Pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada tahun 1879 ketika usianya masih berusia 30 tahun.

Misinya di Kalimantan atas titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge. Dia melaporkan kepada Gibernur tentang Peradaban Suku-Suku Dayak. Selain itu Ia juga menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda. 

Head Hunter Of Borneo
Dalam perjalanannya dari Samarinda ke Tenggarong dilanjutkan ke Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis sebuah buku yang berjudul "Head Hunters of Borneo" yang diterbitkannya pada tahun 1881.

Salah satu isi dalam buku yang menarik perhatian banyak orang adalah Kisah Keberadaan Manusia Berekor Di Pedalaman Hutan Kalimantan.

Sembari menikmati durian dalam jamuan makan malam di atas rakit, Carl Bock berbincang dengan Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan kerabatnya tentang  Keberadaan Ras Manusia Berekor yang konon pernah menghuni di wilayah Kesultanan Pasir dan Tepian Sungai Teweh.

Percakapan tersebut membuat Bock berpikir tentang keberadaan "Tautan Kerabat Yang Hilang" yang disuarakan oleh Teori Darwin.

Tjiropon, seorang abdi kepercayaan Sultan, meyakinkan Bock didepan Sultan dan para pangeran bahwa Ia pernah menjumpai sosok Manusia Berekor atau "Orang-Boentoet" beberapa tahun yang silam di Pasir.

Sang abdi bahkan mampu melukiskan sosok manusia berekor dengan kata-kata. Penampilan mereka sangat luar biasa, berambut dan bermata putih. Mereka memiliki ekor sekitar 5 hingga 10 centimeter. Unikmya mereka harus membuat lubang dilantai rumah untuk tempat ekor mereka sehingga mereka dapat duduk dengan rasa nyaman.

Sultan Kutai pun sangat takjub akan cerita salah satu abdinya ini. Kemudian Sang Sultan memberangkatkan Tjiropon untuk memberikan sebuah surat kepada Sultan Pasir untuk mengirimkan sepasang Manusia Berekor kepadanya.

Namun sepertinya Bock cukup ragu tentang mitos keberadaan Manusia Berekor di Pedalaman Hutan Kalimantan, Meski begitu Dia tetap setuju dan berupaya mencari "Tautan Kerabat Yang Hilang". Bahkan Ia menjanjikan kepada Tjiropon uang sejumlah 500 gulden apabila Tjiropon berhasil membawa pulang Sepasang Manusia Langka tersebut.

Beberapa hari tanpa kabar, Bock kemudian melanjutkan perjalannya dari Tenggarong ke Banjarmasin. Ketika Bock berada di Banjarmasin, Tjiropon menjumpainya. Dengan wajah kecewa sang abdi berkata bahwa Ia telah menyampaikan surat itu kepada Sultan Pasir, Namun tidak mampu membawa Ras Manusia Berekor.

Hingga akhirnya Residen Banjarmasin mau membantu Bock untuk mengirimkan surat lagi kepada Sultan Pasir yang isinya menyakan sekali lagi tentang keberadaan Manusia Berekor yang ada di wilayahnya Sultan Pasir.

Hingga sebulan lamanya tanpa kabar berita, Surat balasan dari Sultan Pasir akhirnya sampai juga ketangan Residen Banjarmasin. Tetapi tampaknya ada kesalahpahaman bahwa "Orang-Boentoet Sultan Di Pasir" adalah sebutan para pengawal pribadi Sultan Pasir.

Kesultanan Pasir
Kesultanan Pasir

Pantaslah Sultan Pasir marah besar hingga mengancam perlawanan kepada Sultan Kutai dan mengusir Tjiropon. Akibatbya menurut Bock, Sultan Pasir mendirikan pertahanan dan siap berperang melawan Kesultanan Kutai. "Jika Sultan Kutai menginginkan "Orang-Boentoet" Saya, Biarlah Dia yang ambil sendiri," ujar Sultan Pasir.

Meskipun demikian, Tjiropon tetap bersikukuh dengan pendiriannya bahwa "Manusia Berekor" tersebut memang benar-benar ada. "Demi Allah Saya pernah melihat"Orang Boentoet" beberapa tahun yang silam dan berbicara kepada mereka, tetapi Saya tidak bisa melihat mereka saat ini," ungkapnya seperti yang dicatat Bock dalam bukunya.

Nah apakah Manusia Berekor Di Pedalaman Kalimantan ini benar-benar ada? Entahlah, Bock tak pernah tertarik lagi untuk menyelidiki manusia misterius ini. Diapun menyebut peristiwa pencarian Ras Manusia Berekor Di Pedalaman Kalimantan sebagai kekeliruan yang menggelikan dan tetap menjadi sebuah misteri hingga hari ini. 

 
Views
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai topik artikel. Komentar yang tidak relevan dengan topik artikel akan terhapus.

Note: only a member of this blog may post a comment.

Blog Archive

Bookmarking

Ikuti Facebook