MENJELAJAHI 8 DESA MEGALITIKUM DI INDONESIA

Menjelajahi 8 Desa Megalitikum Di Indonesia  


Mahessa83 -  Menikmati suasana alam yang tak seperti biasanya, menyajikan pemandangan unik, susunan kampung dari bebatuan yang tertata rapi seperti Anda kembali ke Zaman Batu. Kehidupan budaya masa prasejarah di bumi nusantara ini dengan ditemukannya batu-batu besar menyerupai bangunan yang diyakini sebagai media pemujaan peninggalan Zaman Megalitikum banyak terdapat di desa-desa dibawah ini.

Di sini waktu seakan terhenti dimana kehidupan dari masa zaman batu masih dapat Anda nikmati dan resapi bersama keramahan penduduknya yang mengesankan.

Di Desa Megalitikum ini Anda dapat menyaksikan keberadaan batu-batu besar seperi dolmen, meja batu, arca batu serta kehidupan tradisioanal yang tidak banyak terpengaruh oleh kemajuan zaman.

Berikut 8 Desa Megalitikum Di Indonesia yang masih terpelihara dengan baik dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.     

1. Desa Megalikum Kampung Bena



Desa Megalikum Kampung Bena

Kampung Bena adalah salah satu Kampung Megalitikum yang terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kampung ini terletak di puncak bukit dengan view Gunung Irene. Kampung yang saat ini terdiri kurang lebih dari 40 rumah yang saling mengelilingi tumbuh memanjang dari utara ke selatan. 

Di tengah-tengah kampung terdapat bangunan yang oleh mereka disebut Bhaga yang bentuknya mirip pondok kecil tanpa penghuni dan Ngadhu, bangunan bertiang tunggal dengan atap dari ijuk yang mirip dengan pondok peneduh.

Kampung ini sama sekali belum tersentuh kemajuan teknologi. Arsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya mempunyai satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar. Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Ngada, Kampung ini telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu yang hingga kini adat serta budayanya tidak banyak yang berubah dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.   

2.  Desa Adat Rotenggaro



Desa Adat Rotenggaro

Rotenggaro merupakan merupakan sebuah Kampung Adat yang berada di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Memasuki Desa Adat Rotenggaro membuat kita ibarat memasuki lorong waktu kembali ke Zaman Megalitikum sekitar 4.500 tahun yang lalu. Di desa ini banyak terdapat kuburan batu tua.

Keasrian kultur asli Rotenggaro masih tetap dipertahankan hingga azaman modern ini. Pesona lainnya dari Desa Adat Rotenggaro adalah keindahan pantainya dengan pasir putih yang sangat bersih dan berkilau menghadap laut lepas dengan deburan ombak yang sempurna untuk berselancar.

Kampung dengan bentuk rumah adat menjulang tinggi melebihi ketinggian rumah-rumah adat pada umumnya menjadi salah satu keunikan tersendiri dari Kapung Adat Rotenggaro ini. Juga dengan keberadaan  kuburan-kuburan batu di desa ini menjadi tanda kebesaran leluhur desa adat Rotenggaro. 

Ukiran dan pahatan pada tiap batu kubur menambah kesan mendalam pada peninggalan leluhur ini. Menyerupai meja, batu berukuran besar ini berdiri kokoh menantang angin kencang dari lautan. Selain batu kubur leluhur atau raja, terdapat pula batu kubur warga Rotenggaro lainnya dengan ukuran lebih kecil.
 
Dengan ukuran baru yang sangat besar tersebut, bisa dibayangkan bagaimana pada jaman dulu leluhur warga Rotenggaro menarik batu besar dan menumpuknya menjadi mirip sebuah meja atau altar untuk digunakan sebagai kubur. Diperlukan semangat gotong royong, ritual leluhur, dan upacara pemakaman secara turun temurun dari warga desa adat Rotenggaro.

3. Situs Megalitikum Desa Terjan 



Situs Megalitikum Desa Terjan

Situs Megaltikum Desa Terjan ini berada di perbukitan tambang kapur Selodiri tepatnya berada di Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Di desa ini banyak ditemukan artefak kepala binatang hingga susunan batu yang melingkar layaknya sebuah tempat pemujaan. Objek pada desa ini diantaranya bebatuan zaman prasejarah berupa kepala katak, kepala buaya hingga kepala ular.

4. Desa Megaltikum Bawomataluo



Desa Megaltikum Bawomataluo

Desa Bawomataluo adalah sebuah desa megalitik yang terletak di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Di desa inilah atraksi Loncat Batu menjadi terkenal hingga mancanegara. Selain atraksi Loncat Batu, di desa ini juga banyak peninggalan prasejarah untuk kita lihat. Seperti Rumah Raja yang didirikan dengan menggunakan batang kayu besar, Dolmen atau Meja Batu dengan berbagai bentuk dan ukuran.

5. Desa Megalitikum Kampung Tarung



Desa Megalitikum Kampung Tarung

Desa Megaltikum Kampung Tarung terletak di Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Ada 38 rumah adat di kampung Tarung yang letaknya di tengah-tengah kota ini.

Penduduk di rumah adat ini masih menganut ajaran Marapu, yang merupakan agama lokal masyarakat Pulau Sumba.

Di Kampung Tarung, arsitektur rumah dipertahankan dari bahan-bahan yang tersedia di alam. Dengan filosofi bahwa rumah dan lahan pertanian adalah pasangan tak terpisahkan. Rumah di  Kampung Tarung adalah rumah tahan gempa yang telah teruji ratusan tahun.

Selain menenun, penduduk juga bertani dengan tanaman utama padi dan jagung. Di Kampung Tarung digelar upacara adat setahun sekali sekitar bulan November. Kampung Tarung adalah potret peradaban Megalitikum yang masih terjaga kelestariannya hingga sekarang.

6. Desa Megalitik Wolotopo


 Desa Megalitik Wolotopo

Desa Megalitik Wolotopo berjarak sekitar 12 kilometer ke arah timur atau sekiitar 30 menit berkendara dari Kota Ende, tepatnya berada di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Desa ini biasanya menjadi tujuan wisata penunjang saat menyambangi Danau Kelimutu.

Desa Wolotopo menarik untuk disambangi sebab inilah desa tua yang masih mempertahankan dan melestraikan tradisi megalitik. Di sini Anda dapat melihat bangunan dan rumah adat serta pemukiman khas Flores. Bangunan rumah adat dan pemukimannya dibangun di atas susunan batu yang tinggi dan kokoh pada lanskap tanah dengan konturnya berundak-undak. Kemungkinan untuk menyiasati lahan berundak itulah, batu-batu yang diperoleh dari laut atau gunung ditumpuk-tumpuk sedemikian rupa sehingga dapat dibangun rumah di atasnya.

Di sini beberapa rumah serupa rumah panggung rendah yang ditopang dengan batu berbentuk lonjong atau kayu-kayu. Rumah-rumah tersebut beratapkan rumbia, sedang yang lainnya sudah pula menggunakan seng. Pada halaman rumah-rumah yang seolah melingkari halaman tersebut, nampak tumpukan batu yang lebih tepat disebut sebagai menhir.

Hal menarik dari desa ini adalah adanya rumah adat yang sudah bertahan selama lebih dari 7 generasi. Lokasinya tepatnya berada di bukit tak jauh dari kompleks pemukiman penduduk. Dikatakan bahwa rumah adat dari kayu ini memiliki keunggulan dari arsitektur dan teknologi kuno yang terbukti kuat serta telah teruji zaman. Sebagaimana kebanyakan rumah adat zaman dahulu, rumah adat di Wolotopo juga dibangun tanpa menggunakan paku, beberapa bagian memakai pasak kayu. 

Tidak hanya rumah adat, di atas bukit dengan pemandangan yang indah ini dapat Anda temukan pula bangunan kayu yang berukuran kecil disebut kedha kanga, berfungsi seperti kuburan, sebab di sinilah disimpan tulang para leluhur dan bahkan mumi. Terdapat pula batu-batu menhir dan batu sesaji yang digunakan untuk kepentingan upacara adat. Upacara adat memang kerap dilaksanakan di atas bukit ini. Pemandangan di atas bukit yang langsung menghadap ke lepas pantai selatan menambah pesona keindahan tempat yang sakral ini.

7. Kampung Megalitik Lai Tarung


Kampung Megalitik Lai Tarung
Kampung Lai Tarung, kampung adat megalitik yang memiliki kuburan kuno. yang terletak di Desa Matakateri, Kecamatan Takitu Tana, Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Walau tergolong peninggalan purbakala, namun bukti tingginya peradaban manusia telah tampak di sini. Hal ini terbukti dari terdapatnya ukiran manusia, ayam, kuda, kerbau, mamuli (hiasan telinga atau kalung pada leher manusia), dan masih banyak lagi.

Warga desa masih hidup dengan memegang nilai-nilai adat dari nenek moyang, seperti melakukan berbagai upacara adat dan keahlian menenun yang masih dilakukan secara turun-temurun oleh para wanita bertelanjang dada.
Di atas bukit juga terdapat batu kilat. Yang disebut batu kilat adalah empat buah tiang batu yang konon selalu disambar petir setiap hujan turun. Menurut saksi mata, kilat tersebut akan mengeluarkan bunga api yang kemudian merambat ke tiang batu tersebut.

8. Desa Megalitik Di Lembah Bada


Desa Megalitik Di Lembah Bada
Sisa-sisa peninggalan zaman prasejarah masih sangat kental di Lembah Bada. Dalam upacara-upacara adat, kita bisa menyaksikan warga setempat mengenakan baju-baju berbahan kulit kayu yang terlihat kaku dan sedikit agak lusuh dengan warna-warni alami.

Lembah Bada yang di huni oleh Suku Lore terletak di Desa Lengkeka, Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ini terasa masuk ke Bedrock, kota fiksi zaman prasejarah dalam film ”The Flintstones”. Para wanita dan tetua adat mengenakan pakaian dari kulit kayu yang ditumbuk menggunakan batu. Kita bisa merasakan jejak-jejak zaman batu.

Sejak dahulu, masyarakat Bada memang menggunakan kain kulit kayu sebagai bahan baku pembuatan pakaian. Lembaran kain kulit kayu yang telah dikeringkan dipotong sesuai pola serta dijahit menjadi berbagai macam pakaian, seperti blus, celana, daster, selimut, dan ikat kepala.

Peneliti kain kulit kayu dari Universitas Surugadai, Jepang, Isamu Sakamoto, menyebut tradisi pembuatan kain kulit kayu di Lembah Bada muncul sejak zaman Neolitikum sekitar 3.600 tahun lalu. Artinya, tradisi ini sudah berkembang jauh sebelum zaman Megalitikum.

 


Dengan Mengklik Iklan Di Bawah ini, Donasi Anda, Kami butuhkan untuk membangun Website ini.
Views
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai topik artikel. Komentar yang tidak relevan dengan topik artikel akan terhapus.

Note: only a member of this blog may post a comment.

Blog Archive

Bookmarking

Ikuti Facebook